Sabtu, 31 Januari 2015

3eNG: Ngobrol Ngalor Ngidul

Sabtu, 31 Januari 2015
Oleh RZ Hakim

Hari ini saya dan sedikit teman di Keluarga Tamasya --Band-- menyelenggarakan sebuah diskusi kecil, berbicara seputar dunia ekonomi dan lingkungan. Acara ini kami namakan 3eNG: Ngobrol Ngalor Ngidul, bertempat di Kedai Gubug belakang Hotel Royal Jember. Acara dimulai sedari pukul tiga sore.

Mengapa kami membuat acara ini?

Tadinya kami hanya hendak membantu teman, Farid Solana beserta istri, Gamar Tan. Mereka dari SOGA Institute. Saya baru mengenal mereka pada tiga puluh empat hari yang lalu, atas inisiatif seorang teman baik bernama Wisnu. Farid Solana dan Gamar Tan atas nama SOGA Institute, mereka berencana hendak membuat Project Talk Show Ekonomi Outlook 2015, bertempat di Gedung Soetradjo Jember pada bulan Februari. Sebagai awalan, PADA 22 Januari lalu pihak SOGA Institute memiliki ide dadakan, yaitu mengadakan sebuah diskusi kecil pra acara. Ide ini kami bicarakan lagi pada 24 Januari 2015, bertempat di rumah saya.

Jadi konsep diskusi --pra acara Project Talk Show Ekonomi Outlook 2015-- yang mereka inginkan adalah sebentuk diskusi formal. Tema dari Farid adalah Jember Kini dan Nanti. Maksudnya, melihat Jember dari sisi ekonomi, pertanian, lingkungan, dan budaya. Di sana akan ada backdrop bertuliskan SOGA Institute, kupon untuk 50 orang peserta diskusi masing-masing setara dengan Rp. 10.000,- yang bisa ditukar dengan menu yang tersedia di Kedai Gubug. Satu lagi, masing-masing peserta diskusi akan mendapatkan satu kotak konsumsi makanan yang direncanakan akan dipesankan ke Kapok Lombok, per porsi empat belas ribu rupiah. Ada juga uang saku untuk empat pemateri, masing-masing pemateri lima ratus ribu rupiah. Untuk MC dan moderator juga akan mendapatkan uang saku dari SOGA Institute. Mereka juga ingin seluruh panitia mengenakan kaos yang seragam, bertuliskan panitia. Kata pihak SOGA, untuk membedakan mana yang panitia dan mana yang peserta. Juga sebagai cinderamata ketika diskusi telah usai. Adapun tujuan acara ini versi Farid Solana; Menjaring aspirasi warga Jember untuk SOGA Institute Open Forum Series.

Di malam itu --24 Januari 2015-- saya mengupayakan daya tawar yang lain mengenai konsep acara. Intinya, acara tidak terlalu formal dan tidak melulu tentang menjaring data. Saya lebih senang jika diskusi tersebut dilaksanakan atas nama ilmu pengetahuan. Farid Solana dan Gamar Tan tetap bersikukuh jika diskusi ini, meskipun santai, tetapi tetap harus formal.

"Formal Mas, tapi santai. Biar masyarakat Jember terbiasa dengan acara formal," ujar Gamar Tan.

Tentu saya sulit untuk melakukan daya tawar lagi. Jauh-jauh hari saya sudah bicara dengan mereka bahwa kami di Keluarga Tamasya terbiasa dengan proses kolektif. Itu saya katakan di hari pertama berjumpa saat berkenalan di Macapat Cafe, 29 Desember 2014. Saya tawarkan pada mereka, jika membuat acara besar sebaiknya meminta bantuan teman-teman EO atau rekan LSM yang terlatih untuk berkecimpung di acara seperti itu. Mereka enggan, dengan alasan tidak ingin melibatkan EO dan LSM. Entah kenapa.

Di pertemuan sebelumnya, 22 Januari 2015, Farid Solana hanya membawa ide dadakan, yaitu membuat diskusi pra acara Project Talk Show Ekonomi Outlook. Mengenai kapan sebaiknya dilaksanakan, tentang nama-nama pemateri (Farid Solana ingin ada empat pemateri, masing-masing mengampu bidang ekonomi, lingkungan, pertanian, dan budaya), tentang teknis peralatan yang dibutuhkan serta konsumsi, saya dan istri yang membantu mengusulkannya. Juga, tentu saja yang paling penting untuk SOGA Institute, mengumpulkan teman-teman komunitas.

Rupanya obrolan pada malam hari di kediaman saya --24 Januari 2015-- adalah perbincangan terakhir antara saya dan Farid Solana beserta istrinya, Gamar Tan. Setelah itu tak ada lagi komunikasi dari mereka.

Pada 27 Januari 2015 saya bicara pada dua sahabat, Achmad Bahtiar a.k.a Bebeh dan Wisnu. Waktu terus berjalan, sementara hari yang disepakati untuk mengadakan diskusi semakin dekat. Apa yang harus kita lakukan jika tak ada lagi komunikasi dengan Farid Solana beserta istri? Ketika itu kami berpikir, mungkin mereka sedang tidak enak badan. Menurut Wisnu, acara sebaiknya tetap dilanjut, dengan konsep berbeda. Nada serupa juga saya dengar dari Achmad Bahtiar.

Esok harinya, tiga hari sebelum jadwal rencana acara, masih tidak ada komunikasi. Saya dan Achmad Bahtiar kembali berbicara, bertempat di rumah saya. Malam itu, ada ide dari Achmad Bahtiar, tema acara yang tadinya adalah Jember Kini dan Nanti, berganti menjadi 3eNG: Ngobrol Ngalor Ngidul. Kami meminta Cak Dai dan Mas Ari untuk tetap menjadi teman bicara di bidang lingkungan dan ekonomi. Sedangkan dua pembicara lainnya yang direncanakan berbicara di bidang budaya dan pertanian, tidak jadi kami hubungi.

Tentu di acara ini --3eNG: Ngobrol Ngalor Ngidul-- tak ada lagi kupon untuk 50 orang peserta, tak ada kotak makan yang sedianya beli di Kapok Lombok, tak ada uang saku untuk pemateri (masing-masing Rp. 500.000,-), tak ada backdrop SOGA Institute karena kami mengatasnamakan Keluarga Tamasya, tak ada uang saku untuk MC maupun Moderator, dan beberapa 'tak ada lagi' lainnya.

Jadi teman-teman, kami hanya sedang menuntaskan ide dari rekan baru. Di pembuka acara 3eNG: Ngobrol Ngalor Ngidul, akan kami katakan jika ide ini berawal dari pihak SOGA Institute, Farid Solana dan Gamar Tan. Serta tentu saja ucapan terima kasih kepada mereka.

Sekian penjelasan dari saya mengenai mengapa kami membuat acara 3eNG: Ngobrol Ngalor Ngidul. Hal-hal lain yang belum saya tuliskan secara rinci di sini, Insha Allah akan saya tuliskan di lain waktu secara kronologis.

Terima kasih dan salam lestari.

Rabu, 28 Januari 2015

Reuni dengan Supri

Rabu, 28 Januari 2015

Bersama Supriyadi, 28 Januari 2015

Saya dan istri menghabiskan sore di kios rokok milik seorang sahabat lama, namanya Supriyadi. Melihat kami datang, wajah Supri sumringah. Dia bertanya mengapa kami lama sekali tidak singgah di kiosnya. Seperti biasanya, saya hanya bisa tersenyum.

"Mentak tolong ye Pri, tang motor ban budina engak se bucor alos."

Meskipun saya dan Supri terbiasa menggunakan Bahasa Madura dalam setiap percakapan, namun istri saya yang kelahiran Tuban sama sekali tidak merasa bingung. Ia memang telah paham, meski hingga kini masih sulit untuk mengucapkan sesuatu dalam Bahasa Madura.

Supri bertanya tentang kabar Kakak perempuan saya. Saya bilang, Kakak baik-baik saja.

Supri dan Kakak saya, dulunya mereka adalah teman sekolah satu angkatan di SMAN 1 Arjasa. Mereka angkatan kedua, tahun 1990. Kata Supri, tahun itu masih ada jadwal belajar mengajar yang berbeda, ada yang masuk pagi ada pula yang masuk siang. Supri dikeluarkan dari SMAN 1 Arjasa karena dianggap masuk kategori nakal. Namun pihak sekolah sangat santun dalam proses mengeluarkan siswanya.

"Waktu itu ada dua orang guru sekolah yang datang ke rumahku. Mereka adalah Bu Tosan dan Bu Hera. Dari mereka saya tahu jika maksud kedatangannya adalah untuk menyampaikan kabar yang tak ingin saya dengar." Supri menceritakan itu sambil memasukkan ban dalam ke sebuah timba berisi air. Mendengar berita itu, Supri tidak berkomentar apa-apa, juga tidak merasa sakit hati.

Selama berteman dengan Supri, tidak sekalipun saya melihat figur yang 'nakal' menurut pendapat umum. Supri sahabat yang baik. Barangkali Supri sudah diberi label nakal sedari SMP, karena dia bersekolah di SMP Pembina Jember. Teman satu angkatannya hanya 14 orang. Jadi keseluruhan hanyalah 15 siswa saja. Angkatan di bawahnya lebih parah lagi, hanya berjumlah 8 siswa saja. Mereka adalah generasi terakhir SMP Pembina. Antara tahun 1989 hingga 1990, sekolah ini memang meredup, kemudian ditutup tahun berikutnya. Kegiatan belajar mengajar yang berlanjut hanyalah yang tingkat SMA saja, di komplek yang sama. Namun sama saja, SMA Pembina juga tidak bertahan lama.


Komplek Sekolah SMP - SMA Pembina yang kini tinggal cerita

Tadi sore, kami sempatkan juga untuk mengabadikan gedung SMP - SMA Pembina. Kini perwajahannya yang tak terawat mengingatkan kita pada Suzuran, sekolahnya Takiya Genji, Serizawa, dan teman-temannya dalam film Crows Zero. Tepat di seberang sekolah yang sudah tak berfungsi ini terdapat gedung SMK Trunojoyo, Jalan Danau Toba Nomor 24 Jember.

Setelah lima tahun tidak bersekolah, di hari yang lain ia berjumpa dengan Pak Lisno. Supri ditanya, apakah masih ada niat untuk sekolah? Tentu saja ia mengangguk. Maka tahun itu juga, Supri kembali terdaftar di SMAN 1 Arjasa atas bantuan Pak Lisno. Supriyadi, sahabat saya ini lahir pada 3 Agustus 1974. Ketika memutuskan untuk kembali sekolah, maka otomatis ia akan berkumpul dengan generasi yang lima atau enam tahun lebih muda darinya. Tidak ada masalah, toh belajar tak ada hubungannya dengan usia. Barangkali itu yang ada dalam pikiran Supri, sahabat saya.

Tahun 1998, satu bulan sebelum kami melaksanakan ujian EBTANAS, tanpa sepengetahuan teman-temannya Supri melangsungkan pernikahan. Adalah perempuan baik hati bernama Misyati --kelahiran tahun 1980-- yang berhasil memikat hati Supri.

"Tidak ada teman-teman yang mengerti pernikahan kami. Selain sengaja tidak saya undang, ketika itu teman-teman sedang berduka. Kamu tentu ingat Kim, tentang kecelakaan motor yang dialami sahabat kita, Monika dan Ermin. Peristiwa itu merenggut nyawanya. Teman-teman sedih, sedangkan saya sudah jauh-jauh hari merencanakan pernikahan. Satu-satunya orang di SMAN 1 Arjasa yang mengerti kabar pernikahan saya hanyalah Bu Ismi. Dia guru yang baik dan penjaga rahasia yang sangat terpercaya."

Saya terbius oleh cerita yang dituturkan Supri. Dia berhasil menghadirkan kembali beberapa keping kenangan di masa SMA. Iya benar, dulu kami pernah kehilangan seorang sahabat bernama Monika, di detik-detik menjelang EBTANAS.

Kini pasangan Supriyadi dan Misyati menjalani hari-hari dengan sederhana. Mereka dikaruniai dua bidadari yang cantik, Syam Wahyuni dan Dian Rohmatul Hasanah. Dua-duanya sama-sama kelas satu SMK, namun berbeda sekolah. Masing-masing bersekolah di SMK Negeri 1 Jember dan SMK Negeri 3 Jember.

Supri mencari penghasilan dengan berjualan rokok, kerupuk titipan orang, bensin eceran, serta membuka usaha tambal ban. Supri tampak bahagia. Saya kira, dulu waktu kami sekolah, Supri selalu tampil apa adanya dan pendiam. Dia bukan sosok yang liar seperti yang pernah dijalaninya saat ia sekolah satu angkatan dengan Kakak saya. Mungkin Supri menaruh hormat pada Pak Lisno yang membantunya untuk kembali bersekolah. Atau ia memang pribadi yang baik.

Tahun 1998, saat Indonesia sedang demam tingkat tinggi, saya dan Supri dinyatakan lulus dari SMAN 1 Arjasa. Supri tentu bahagia, meskipun semisal dia masih sekolah dengan Kakak saya, seharusnya telah lulus SMA tahun 1993.

Teman-teman, jika Anda sedang berkunjung ke Jember dan melintas di Jalan Jawa areal kampus, di sana ada kios kecil yang lokasinya tepat berada di seberang gerbang IKIP PGRI Jember. Di kios itulah Supri menjalani hari-hari dengan memberi manfaat pada orang yang mebutuhkan keahliannya.

Terima kasih Supri, atas mie ayam, toppas, dan sore yang indah.
RZ Hakim © 2014