Sabtu, 21 Desember 2013

Wajah Jember Era 1979

Sabtu, 21 Desember 2013
Kisah Jember Jadul di bawah ini adalah hasil obrolan saya bersama seseorang yg biasa saya panggil CD.

Pada 1979, kabel-kabel di atas Penjara sampai SMP 2 Jember tampak 'menot' ke bawah. Pasalnya, di atasnya bertengger banyak sekali burung gereja. Mungkin ribuan. Mereka mulai bertengger pada sore hari jam setengah lima. Esok paginya, sehabis subuh, mereka kembali berterbangan.

Waktu itu belum ada yg nembak. Masih terjalin kepercayaan antara burung dengan warga Jember.

Wajah Jember saat itu..

Belum ada Masjid Jamiek yg baru, Al Baitul Amin. Pasar Johar sangat ramai. Itu adalah satu-satunya pasar barang loak terbesar dan terlengkap di daerah tapal kuda. Di pojok Pasar Johar sebelah barat ada orang yg service aki, yang ditemani burung beo. Beo itu selalu berbunyi, "Pak Harto Pak Harto."

Di selatan Pasar Johar ada IAIN, dulunya sekolah Chung Hua Jember (1911 - 1965). Saat ini bangunan IAIN digantikan dengan pertokoan Mutiara. Di selatannya lagi ada SMP FIP.

Tahun 1979 Pasar Tanjung baru selesai ditingkat. Pada saat itu tidak ada Pasar Tradisional yang bertingkat di daerah tapal kuda.

Pertokoan Kali Jompo belum ada. Jembatan Kali Jompo waktu itu masih terlihat pagarnya. Kita bisa melihat sungai jompo dari atas jalan. Airnya masih belum begitu kotor dan bau. Ikannya besar-besar, banyak ikan tawes. Ikan-kan tawes ini biasa ditangkap dengan cara; meletakkan keranjang bambu di daerah lompatan ikan tawes di air terjun, pas di bawah Jempatan Jompo sebelah selatan.

Di masa itu alun-alun sudah dimanfaatkan untuk sepak bola dan sepeda. Dulu ada dua klub sepeda mini cross di jember, Kecoak dan Berit. Belum ada BMX tapi yang ada sepeda mini biasa. Nah, sepeda itu yang biasa digunakan angkat-angkatan.

Selanjutnya..

Pada 1979, di pertigaan jalan raya jurusan Gebang, masih terdapat dokar. Semakin masuk ke arah Gebang, semakin banyak dokar. Itu adalah saat-saat terakhir keberadaan dokar/delman. Masih banyak orang yang jualan buah kemundung, yang sekarang buah ini sulit didapat. Es campur adalah es paling mahal di jember. Masih belum populernya es susu soda gembira.

Pada 1979, ongkos becak dari Slawu, Gebang Poreng sampai lapangan Talangsari (Pasar Tanjung) adalah 250 rupiah.

Jember Utara, Bondowoso, hingga Panarukan

Tahun 1977, orang-orang Jember Utara masih aktif memanfaatkan transportasi dari Stasiun Jember hingga Stasiun Panarukan.

Berikut adalah jalur yang dilewati kereta. Berangkat dari Stasiun Jember menuju Stasiun Kotok, Stasiun Kalisat, Stasiun Ajung, Stasiun Sukosari - Sukowono - Tamanan - Grujukan - Bondowoso - Tenggarang - Wonosari - Tangsil - Widuri - Bagur - Situbondo - Tribungan - baru kemudian tiba di Stasiun terakhir, Panarukan.

Pada waktu itu, kereta uap dikenal dengan nama spoor HITAM. Sedangkan kereta diesel (yang dianggap lebih modern, sama seperti kereta saat ini) biasa disebut Spoor BALAS.

Era1977 hingga1979 adalah masa transisi dari spoor hitam (uap) ke spoor balas (diesel). Dalam sehari, keduanya memiliki jadual keberangkatan 2 kali PP Jember - Panarukan. Pagi dan sore.

Biasanya, kres (salipan) antara spoor hitam dengan spoor diesel terjadi di Stasiun Bondowoso. Itu kalau kevepatannya sama-sama normal. Jika tidak normal, biasanya kres terjadi di Stasiun Tamanan.

"Stasiun paling indah adala Stasiun Panarukan. Di sana saya bisa melihat pantai, gudang-gudang garam buatan Belanda, jalan deandels, juga memandang kesibukan para penjual juwet, buah yang sekarang saya rindukan. Saya masih ingat, ketika kita membeli juwet, maka si penjual akan membungkus buah berwarna hitam anggur tersebut dengan daun waru," kata CD.

"Di Stasiun Jember tak pernah saya jumpai pedagang juwet. Yang saya ingat hanyalah kereta api parkir, banyak sekali. Paling banyak dibanding stasiun lain. Mungkin gara-gara perbengkelan kereta ada di Jember."

Masih menurut CD, kota paling asyik (ketika naik kereta) di akhir 1970an adalah Situbondo. Kita bisa naik kereta di tengah kota. Lewat alun-alun, Lewat Pabrik Gula (PG) Panji, melewati beberapa jembatan besar (di atas sungai Sampean), dan melewati terowongan.

"Sesampainya di Stasiun Panarukan, selain membeli juwet yang berbungkus daun waru, kadang saya juga membeli ketan hitam atau ketan putih. Ketan juga disajikan dengan bungkus daun waru."

Dari CD, saya jadi mengerti, ketika kereta tiba di Stasiun Bondowoso, kuliner favorit rata-rata penumpang bukan tape tapi onde-onde. Tape lebih dikenal di Bondowoso Kota.

Beda dengan Stasiun Bondowoso, di Stasiun Tamanan lebih identik dengan tahu goreng, lengkap dengan garam dan lomboknya.

Di Jalur Bondowoso - Situbondo, sesekali kereta salipan dengan trem juga dengan lori. Trem menggunakan mesin diesel, lori mesin uap. Beda dengan trem di wilayah Jember Selatan, di sini fungsi trem tidak untuk mengangkut manusia, melainkan untuk SDA tebu, sama seperti lori. Mungkin karena di Jember Utara ada lebih dari satu PG.

Situbondo memiliki 3 PG; Panji, Asembagus, Wringinanom. Sedangkan Bondowoso hanya memiliki 1 PG yaitu di Prajekan. Waktu itu PG Prajekan bisa dikatakan terbesar di wilayah tapal kuda, lebih besar dari PG Semboro.

Demikian bincang-bincang saya dengan CD. Ngomong-ngomong, ada yang suka jajanan onde-onde?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon maaf, saya mengaktifkan moderasi pada kolom komentar, untuk entri yang lebih lawas --14 hari. Salam.

RZ Hakim © 2014