Rabu, 28 September 2016

Humor Sebagai Katup Pelepas

Rabu, 28 September 2016
Oleh: Abdurrahman Wahid


Dari kliping koran koleksi pribadi, tertanggal 2 Desember 1978

Bagaikan mesin uap, kehidupan yang penuh pergolakan dan ketegangan memerlukan katup-katup pelepas. Apalagi kalau penyebab ketegangan itu adalah tekanan untuk menahan rasa seperti frustasi dan sebagainya. Ini berlaku baik bagi kehidupan anggota masyarakat sebagai individu maupun bangsa sebagai gabungan kolektif kelompok-kelompok yang ada. Tanpa katup pelepas satupun, ada dua kemungkinan yang akan timbul: ledakan yang akan merusak seluruh kehidupan itu sendiri atau sebaliknya kehilangan semangat dan kegembiraan hidup serta meluasnya sikap masa bodoh.

Politik adalah aspek kehidupan yang paling banyak menimbulkan frustasi, bahkan di negara yang paling demokratis sekalipun. Karenanya, justru lapangan politiklah yang paling membutuhkan katup-katup pelepas itu, apalagi di negara-negara otoriter dan semi-otoriter.

Salah satu katup pelepas yang terbaik adalah humor yang dapat dinikmati masyarakat luas. Ia dapat berfungsi sebagai alat peredam bagi ketidak puasan, keputus-asaan, kejengkelan dan kebingungan. Dengan demikian, humor politik dapat menyerap kesemua perasaan itu tanpa menimbulkan kerusakan berat bagi masyarakat. Perhatikanlah contoh di bawah ini.

Humor Politik

Sewaktu bala tentaranya kalah dalam perang melawan Israel di tahun 1967, Pangab Mesir mendiang marsekal Abdel Hakim Amer dengan gundahnya berjalan kaki di tengah malam di sebuah jalan utama kota Kairo. Setiba di dekat patung Arabi Pasha, salah seorang pejuang yang melawan penjajahan Inggris di masa lalu, ia mendengar namanya dipanggil berkali-kali,walaupun tak ada seorang juga tampak di tempat itu. Akhirnya ia mengetahui bahwa patung itulah yang memanggilnya, dan mendekatlah ia ke patung tersebut. Patung itu berkata kepadanya: "Tak heran Mesir kalah perang, Amer. Kau dan teman-temanmu tak pandai menghargai jasa orang. Masakan aku kau buatkan patung berdiri begini, sedangkan si Zaghlul budak Inggris itu dibuatkan patung naik kuda." Marsekal Amer lari lintang-pukang ke rumah Presiden Nasser untuk menceritakan peristiwa itu. Nasser tidak percaya, akhirnya mereka bersepakat untuk secara diam-diam pergi ke patung itu untuk membuktikannya. Apa yang terjadi sesampai mereka di tempat itu? Patung itu berkata: "Amer, Amer, bagaimana kau ini. Aku minta kuda kau bawakan keledai."

Humor politik yang tersebar di warung-warung kopi ini sekaligus merupakan penyalur ekspresi dan penyerap kejengkelan rakyat Mesir memiliki pimpinan negara yang membawa mereka kepada kekalahan perang, yang mereka persamakan dengan binatang yang disebutkan patung itu dalam ketololannya. Nasser adalah orang yang berjiwa sportif, karena ia membiarkan beredarnya cerita itu jika memang ia mendengarnya. Jika tidak, menurut logika orang Mesir, disamping tolol iapun tuli.

Art Buchwald

Salah seorang kolumnis yang pandai membuat lelucon politik adalah Art Buchwald, yang tulisan tiga-kali-seminggunya dimuat oleh ratusan surat kabar di AS setiap kali terbit. Contoh dari pada kritiknya kepada C.I.A. adalah wawancaranya dengan kepala Departemen Lelucon badan intelijen tersebut.

Sang kepala dengan bangga menceritakan suksesnya dalam menyebarkan lelucon tentang presiden Gonzales, seorang diktator Amerika Latin yang dibenci rakyatnya, dan memusuhi AS. Menurut cerita tu, presiden Gonzales jatuh ke sungai dan jatuh terbawa arus air tanpa dapat ditolong oleh para pengawalnya. Jauh dihilir baru ia dapat ditolong oleh seorang petani.

"Saya ini presiden Gonzales," katanya kepada sang petani. "Anda boleh minta apa saja, karena telah berjasa menolong saya. Sebutkan permintaan Anda." Sang petani menjawab dengan ketakutan. "Saya cuma minta satu saja, paduka. Harap paduka jangan bilang-bilang kepada siapapun bahwa sayalah yang menolong paduka."

Kalau pada cerita diatas Buchwald menggambarkan ketakutan sang petani karena menolong orang yang dibenci rakyat, dalam lelucon berikut ia secara tepat menggambarkan kebingungan yang diakibatkan oleh peristiwa politik yang tidak jelas kejadiannya.

Ketika Che Guevara absen dari pekerjaannya selaku menteri perekonomian untuk bergerilya di hutan-hutan di Bolivia dan kemudian mati disana beberapa tahun kemudian, orang menyangka ia menghilang karena menentang Fidel Castro dan dipenjarakan di Havana.

Alkisah menurut Buchwald, tiga orang yang belum saling mengenal dimasukkan ke sebuah sel di penjara itu. Yang seorang bertanya kepada kawan seselnya mengapa ia ditahan. "Karena saya mengorganisir demonstrasi menentang Che Guevara," jawab yang ditanya. "Aneh, saya justru ditangkap karena membuat plakat menyokong Che," kata si penanya. Mereka lalu bertanya kepada orang yang ketiga, sebab apa ia ditahan bersama mereka. Orang itu menjawab: "Karena saya ini Che Guevara." Begitulah kemelut politik ala Buchwald, baik pendukung maupun penentang tidak ada yang mengenal obyek gerakan mereka.

Frustasi dan humor

Humor politik dapat pula dipakai menunjukkan frustasi orang dalam menanggapi upaya orang intensif untuk mencari identitas kulturil bangsa, bila dihadapkan dengan kenyataan hidup yang berlawanan dengan upaya tersebut. Propaganda berlebih-lebihan dari kaum nasionalis Arab tentang superioritas kulturil mereka melahirkan kisah berikut ini.

Seorang turis Arab menginap disebuah hotel di Paris. Pada pagi harinya, ketika ia menuju meja makan untuk bersarapan pagi, seorang Perancis yang lebih dahulu berada disitu menyambutnya dengan ucapan: "Bonjour," selamat pagi. Si turis Arab yang mengira ditanya namanya, menjawab dalam bahasanya sendiri: "Ana Abbas Hilmi." Kemudian mereka berpisah setelah makan pagi.

Pada siang harinya mereka duduk di meja yang sama lagi, si orang Perancis kembali menunjukkan keramahannya dengan mengucapkan: "bonjour," dan si turis Arab kembali menjawab: "Ana Abbas Hilmi." Tetapi si turis asing ini menyadari kesalahannya dalam menjawab, karena tak mungkin orang bertanya namanya sampai dua kali.

Setelah makan siang, iapun pergi ke toko buku untuk mencari kamus. Dalam kamus Perancis-Arab ditemukannya bahwa kata bonjour adalah ungkapan untuk menyambut baik seseorang. Tetapi ia tidak menemukan kamus Arab-Perancis, sehingga ia tetap tidak dapat menjawab ungkapan itu.

Keluarlah akalnya, ia bermaksud mendahului si orang Perancis mengucapkan bonjour agar supaya warga-negara tuan rumah itu mengeluarkan jawaban yang ingin diketahuinya itu. Apa yang terjadi ketika maksud itu dilaksanakan? "Ana Abbas Hilmi," jawab si orang Perancis yang ingin menyenangkan hati si turis Arab dengan menirukan jawaban yang didengarnya dari sitamu itu pagi dan siang harinya.

Frustasi tentang identitas kulturil ini melahirkan pula lelucon tentang seorang suku Jawa yang berbangga hati karena presiden Cuba Fidel Castro adalah keturunan orang Jawa. Lihat saja namanya, kata orang itu, 'kan berasal dari bahasa Jawa-Padil Sastro. Lagi pula lihat saja caranya mengatur ekonomi negara hingga morat-marit, pokoknya kan alon-alon asal kelakon.

Lelucon politik dapat pula untuk mengungkapkan kebenaran serba tidak enak yang berada dibalik angka statistik muluk-muluk yang dikeluarkan badan-badan resmi pemerintahan. Kita ambil lagi contoh dari Buchwald, tentang sebuah kejadian belasan tahun yang lalu. Ketua RRC Mao Tse-tung mengirimkan telegram kepada PM Russia Kruschev: "Bahaya kelaparan mengancam Tiongkok. Harap kirim bantuan pangan." Tetapi Russia sendiri sedang krisis pangan, sehingga Kruschev menjawab. "Maaf, tidak dapat membantu. Harap kencangkan ikat-pinggang." Maksudnya adalah agar Tiongkok mampu menahan sedikit kelaparan tetapi Mao memberikan jawaban lain: "Kirim ikat pinggang." Rupanya Quota produksi ikat pinggang tidak tercapai tahun itu di RRC, walaupun statistik menunjukkan kebalikannya.

Yang diperlukan

Tetapi kesemua jenis lelucon politik diatas belum mungkin beredar dinegeri kita. Bangsa kita belum memiliki toleransi yang tinggi kepada lelucon, walaupun cukup toleran kepada ketidak adilan seperti yang terjadi atas diri Wasdri. Sehingga jenis lelucon yang dapat berkembang barulah hanya yang mengenal aspek-aspek kecil yang menjengkelkan orang dalam pembangunan.

Seorang warga negeri ini yang jengkel melihat penggalian berkali-kali yang terjadi atas jalan didepan rumahnya untuk bermacam-macam tujuan yang tidak dikoordinir secara rapi dan berbarengan oleh dinas-dinas listrik air minum dan telepon, menceritakan tentang seorang pengemudi mesin giling jalan (stoom wals) yang akan menutup sebuah galian jalan. Begitu ia akan memulai kerjaannya datanglah rombongan tukang gali jalan yang meneriakkan kepadanya: "Cepatan sedikit nutupnya, bung. Kita mau gali lagi, nih!"

Memang dibutuhkan tercapainya tingkatan mental tertentu untuk menerima dengan baik lelucon yang mengeritik. Sedangkan keadaan mental bangsa kita baru sampai pada tingkat yang dilakonkan oleh mendiang Bing Slamet bersama mang Udel dan mang Cepot dalam sebuah episode dari tahun enam-puluhan. Seorang sopir taksi membawa seorang turis asing melalui Jl. Thamrin. Ketika melihat toserba Sarinah sang turis bertanya berapa lama bangunan itu dibuat. Ketika sopir itu menjawab empat tahun, sang turis menyebutnya sebagai terlalu lama. Dinegerinya hanya memakan waktu dua tahun. Ketika ditanyakan hal yang sama tentang HI, mental melayu sang sopir menyuruhnya menjawab dua tahun. Terlalu lama, kata sang turis, dinegerinya hanya menghabiskan masa setahun. Ketika perjalanan diteruskan di Stadion Senayan dan pertanyaan serupa diajukan kepadanya, dalam kejengkelannya sang sopir menjawab: "tidak tahu, tuan, kemarin bangunan ini belum ada."

Entah sampai kapan sikap jiwa kita semua mampu menerima pengamatan tajam atas keadaan sosial ekonomi kita yang terkandung dalam lelucon berikut: seorang penduduk D.K.I. yang rambutnya rontok menanyakan kepada temannya dimana dapat membeli cengkeh untuk obat bagi penyakitnya itu. Pergi saja ke Trenggalek, kata temannya, disana kamu tidak usah beli, akan mendapat juga kebonnya. Karena kata orang, kebon cengkeh disana dikapling-kapling untuk orang Jakarta.


Catatan Tambahan:

Saya berusaha untuk tidak mengedit tulisan ini, agar menjadi seperti aslinya. Adapun bila terjadi typo, atas nama pribadi saya mohon maaf.

Kliping koran yang menyimpan artikel ini adalah pemberian teman Almarhumah Ibu saya, Imam Soebagio namanya. Dalam kliping tersebut, sayang sekali tak ada catatan dari koran apa artikel ini diterbitkan. Saya menuliskannya kembali atas permintaan akun twitter @GUSDURians di T7. Semoga bermanfaat untuk semua, Amin.

1 komentar:

  1. Tulisan-tulisan Gus Dur, terutama humornya, selalu membuat kita ngakak sambil merenung. Posting yang bermanfaat, gan!

    BalasHapus

Mohon maaf, saya mengaktifkan moderasi pada kolom komentar, untuk entri yang lebih lawas --14 hari. Salam.

RZ Hakim © 2014