Kamis, 25 Juli 2019

Tamu dari Jakarta Datang ke Jember Ketika Ibu Bupati Sedang ke Jakarta

Kamis, 25 Juli 2019
Namanya mudah diingat. Prantara Santosa. Tapi jika kita harus menyebutkan nama dan jabatannya secara lengkap, barangkali tak lagi akan mudah untuk diingat; Brigadir Jenderal TNI Prantara Santosa, S.Sos., M.Si., Kepala Pusat Sejarah TNI. Secara struktural, posisinya langsung ada di bawah Panglima TNI.

Saya berjumpa dengan Bapak Prantara Santosa pada Selasa pagi, 23 Juli 2019, di ruang rapat Pemkab Jember lantai satu. Kesan pertama yang saya tangkap waktu itu, ia memiliki pembawaan yang tenang. Bahkan meskipun acara molor hingga lewat satu jam, dari yang seharusnya dimulai pukul delapan pagi. Atas inisiatifnya sendiri, Bapak Prantara membuka jalannya acara dengan sederhana. "Sambil menunggu persiapan dari panitia, mari kita mulai saja dengan ngobrol-ngobrol."

Acara ini tentu sangat penting bagi masyarakat Jember pada khususnya, terkait pengusulan Letkol. Moch. Sroedji sebagai pahlawan nasional.

Ibu Isnaini Dwi Susanti, SH., MSi, atau akrab dipanggil Bu Santi, ia baru memasuki ruangan ketika saya sedang memaparkan garis-garis besar riwayat hidup Moch. Sroedji. Saat saya selesai dengan apa yang saya paparkan, baru kemudian Bapak Prantara memberi kesempatan kepada Bu Santi untuk memulai acara. Di sepanjang pembicaraannya di muka, Bu Santi terus mengulang-ulang permohonan maaf kepada semua yang hadir di ruang rapat --yang tak begitu banyak karena undangan dibatasi.

Bu Santi ini, ia adalah mantan Kepala Dinas Sosial Kabupaten Jember. Tepat sehari sebelumnya, Senin sore, 22 Juli 2019, rupanya Bu Santi dilantik oleh Bupati Jember dr. Hj. Faida, MMR. sebagai Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Jember. Jadi ketika kami sedang melangsungkan pertemuan tersebut, posisi kepala Dinsos Jember dijabat oleh seorang Plt di hari pertama. Sedangkan yang saya ketahui di malam sebelum acara verifikasi/cek lapangan terkait pengusulan Moch. Sroedji sebagai pahlawan nasional tersebut, ia akan diurus oleh Dinas Sosial Jember, mengetahui Sekda --Sebab Bupati dan Wakil Bupati sedang berada di Jakarta untuk menghadiri acara penting di Jakarta Convention Centre (JCC).

"Jadi mohon maaf untuk Bapak Jenderal dan para tamu undangan. Maaf bila saya datang terlambat. Bukan maksud saya untuk tidak menghargai panjenengan semua. Akan tetap tadi pagi saya masih sibuk melayani kepentingan masyarakat, berkaitan dengan posisi saya yang sekarang di Dispendukcapil. Ada sekitar 1500an berkas yang harus saya tandatangani dan harus selesai hari ini. Sekali lagi saya mohon maaf."

Para tamu undangan tentu tak hanya Brigjen TNI Prantara Santosa, S.Sos., M.Si., melainkan ada juga Ibu Afni, SH, M.Si dari Kementerian Sosial RI --Kasubdit Penghargaan Pahlawan dan Perintis Kemerdekaan Kemensos. Bu Afni ini yang beberapa kali disebut oleh Bapak Prantara sebagai 'atasan saya' dan atau kalimat, 'Saya datang ke sini bersama Ibu Afni dan atas perintah beliau.'

Ada juga tim dari Perpustakaan Nasional. Mereka tiba di Jember --dari Jakarta-- sehari sebelum Ibu Afni dan Bapak Prantara tiba.

Dari Dinas Sosial Jawa Timur ada Ibu Aries Soraya. Ia adalah Kepala Seksi Kepahlawanan, Keperintisan dan Kesetiakawanan Sosial Dinsos Jatim. Ibu Aries datang dari Surabaya tidak sendirian, melainkan bersama dua orang lainnya.

Beruntung para tamu undangan tersebut masih sempat dijumpai oleh Ibu Santi, meskipun terlambat, dan meskipun pada akhirnya ia kembali memohon maaf karena setelah agenda di ruang rapat selesai, Ibu Santi tak bisa menemani Tim Peneliti Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP) melakukan kunjungan ke Universitas Moch. Sroedji, ke Markas Besar Brigade Infanteri Raider 9/Dharaka Yudha (atau Brigif Raider 9/Kostrad), lalu ke makam Letkol Moch. Sroedji di Pemakaman Umum Tunjung di Kreongan, kecamatan Patrang. Ibu Santi bilang, ia masih harus melanjutkan agendanya demi melayani masyarakat. "Nanti njenengan-njenengan akan ditemani oleh rekan lain," katanya. Rupanya yang dimaksud 'rekan' tersebut adalah Bapak Didik dari Dinsos Jember.

Sembari menanti mobil untuk rombongan Ibu Afni dan Bapak Prantara, kami semua melakukan foto bersama di bawah patung Moch. Sroedji di pelataran Pemkab Jember. Di antara waktu tersebut, ada saya lihat Bapak Mirfano selaku Sekda Jember datang dari arah pintu utama Pemkab Jember, menuju ke arah kami. Hanya sejenak, dan tidak sedang untuk menemani tamu, melainkan untuk kebutuhan foto bersama.


Bersama Kepala Pusat Sejarah TNI

Di balik patung Moch. Sroedji terdapat relief yang menggambarkan pertempuran Karangkedawung, 8 Februari 1949. Di sanalah saya dan Bapak Prantara membekukan waktu, di Selasa siang yang panas itu.

Selama perbincangan di ruang rapat, kami mendapat suguhan sebuah kotak kecil berwarna putih yang di dalamnya terdiri dari satu gelas air mineral beserta sedotannya, serta dua kue mungil berpenampilan cantik. Saya yang memang sejak berangkat dari Kalisat belum sempat sarapan, menyikat habis apa yang tersaji di dalam kotak tersebut.

Ketidaknyamanan hadir ketika mobil untuk Ibu Afni dari Kemensos RI dan Brigjen Prantara tak kunjung tiba.

Saya mulai lapar. Saya katakan itu ke Hana istri saya, tapi rupanya ia juga lapar. Saya sudah ada di atas mobil bersama Windu, tapi turun lagi karena masih harus menunggu kejelasan mobil penjemput yang dinanti-nanti.

Peserta rapat yang lain, sebagian sudah tidak tampak. Mereka ada yang dari DHC 45 Jember, ada juga dua lelaki sepuh dari Lumajang yaitu Bapak Kadar dan Bapak Ichsan. Bapak Kadar aktif di urusan veteran di Kabupaten Lumajang, sekaligus penulis buku tentang perjuangan rakyat Lumajang yang di dalamnya juga sedikit menyinggung peran Moch. Sroedji selama di kabupaten itu di masa paska kemerdekaan. Adapun Bapak Ichsan adalah veteran Lumajang yang memberi kesaksian bahwa Moch. Sroedji tak hanya berjuang di Jember melainkan juga di Lumajang, Probolinggo, hingga di Surabaya.

Di detik-detik penantian yang menyebalkan itu --mungkin hanya karena saya sedang lapar maka terasa menyebalkan-- saya jadi punya waktu untuk duduk ndeprok di sudut taman Pemkab bagian tengah sambil menyalakan sebatang rokok. Ketika itu saya memiliki waktu untuk merenung sejenak. Pantas saja bila di tigapuluh jam terakhir ini selalu ada perubahan jadwal. Misalnya, dari yang tadinya acara akan digelar di Aula Universitas Moch. Sroedji Jember, berubah tempat dan berpindah di ruang rapat Pemkab Jember lantai satu. Undangan juga dibatasi, barangkali terkait daya tampung ruang rapat yang memang tidak besar. Dibanding tiga tahun lalu, proses pengusulan kali ini terbilang sepi. Padahal Tim Peneliti Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP) yang sekarang ini lebih lengkap dan tidak ada perwakilan. Misalnya, kali ini Kemensos RI terjun langsung. Ia juga dihadiri secara langsung oleh Kepala Pusat Sejarah TNI yang markasnya ada di Jakarta Selatan.

Tibalah saatnya kemudian saya berpikir ulang, kenapa saya ada di sini?

Renungan itu terputus manakala rokok yang saya hisap telah hampir mendekati gabusnya, dan orang-orang semakin terlihat kebingungan --terutama Ibu Afni. Mobil untuk penjemputan telah tiba, dibawa sendiri oleh Pak Didik dari Dinsos Jember, tapi kebablas. Jadi harus mundur, dan rupanya proses mundur itu pun butuh waktu karena di jalur tersebut banyak mobil parkir. Bahkan meskipun hanya untuk mundur sejauh sepuluh meter saja.

Mungkin karena tidak ingin merepotkan, dan agar jalannya acara tetap berlangsung baik, Brigadir Jenderal TNI Prantara Santosa, S.Sos., M.Si., telah menelepon Dandim Jember Letkol Inf Arif Munawar untuk urus transportasi. Tak butuh waktu lama, Dandim datang dengan membawa mobil fortuner warna hitam.

Kejadian di hari itu membuat saya banyak belajar pada Bapak Prantara, tentang bagaimana ia menyikapi hal-hal yang tak sesuai dengan cara berlaku tenang. Sedari acara yang sedemikian molor, hingga urusan transportasi (atar-jemput) yang terkendala lebih dari sekali. Ia tenang. Paling tidak, ia punya cara untuk berusaha tetap tenang. Saya masih ingat bagaimana reaksinya ketika ia berdiri sambil kedua tangannya saling mendekap di bawah dada, menanti datangnya mobil dari Pemkab Jember. Karena di luar ruangan, orang-orang hilir mudik menyelesaikan urusannya masing-masing. Mereka tak tahu kalau sedang ada tamu, sebab tentu di dalam Pemkab tak hanya ada satu acara saja. Dari jauh saya melihat ekspresi wajah seorang jenderal yang resah, namun tetap berusaha tampil tenang.

Ada kabar baik dari Ibu Esti perwakilan resmi dari keluarga Moch. Sroedji. Katanya, sebentar lagi kami akan meluncur ke Resto Ikan Goreng Cianjur di Perumahan Argopuro Jember. Ya, saya lapar. Itu adalah kabar baik. Bagi saya, bagi semuanya.


Ketika di Resto Ikan Goreng Cianjur

Makan siang membuat segala orkes dangdut di dalam perut saya segera berganti menjadi blues. Kalem. Tampak dalam foto, saya bersama Dandim Jember, Ibu Esti dan Bapak Prantara. Di sebelah Ibu Esti, yang tak tampak dalam foto, adalah Ibu Afni dari Kemensos RI. Dua lelaki di belakang saya yang tampak dalam foto, mereka adalah para penulis. Lelaki yang bertopi, namanya Indra G. Mertowijoyo, ia pernah bikin buku berjudul Letkol Moch. Sroedji: Jember Masa Perang Kemerdekaan. Pak Indra datang terlambat, tidak sempat turut berbincang di ruang rapat Pemkab, namun saya mengajaknya untuk turut mengikuti rangkaian acara lainnya di hari itu. Mulai dari kunjungan ke Universitas Moch. Sroedji, ke Brigif 9 Jember, hingga ke makam Moch. Sroedji.

Di sela-sela acara makan siang tersebut, Bapak Prantara menerima telepon. Rupanya dari Bupati Jember yang menelepon dari Jakarta.

***

Saya mencintai semangat juang Moch. Sroedji dan para pejuang lain yang hidup di zamannya. Tapi sejak mula saya bukan bagian dari tim pengusulan Moch. Sroedji sebagai pahlawan nasional. Saya hanya menemani (dan ditemani) pihak keluarga Sroedji. Itu sudah saya lakukan sejak saya Menghadiri Silaturahmi Keluarga Sroedji dan Pemkab Jember. Dulu ketika pihak keluarga dan instansi terkait butuh penulis, saya mengajukan Mrr. Ratna Endang Widuatie untuk menuntaskan bidang kepenulisan secara akademis. Tapi di tahun ini, terdampak perubahan jadwal dan sebagainya, takdir mengantarkan saya untuk mempresentasikan apa yang saya ketahui tentang jejak kehidupan Moch. Sroedji, di depan Tim Peneliti Pengkaji Gelar Pusat. Kabar itu datang tepat di malam sebelum acara 'rapat' dimulai. Bismillah.

Dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada para pendahulu yang telah melakukan pencatatan kesejarahan, para sahabat pemerhati sejarah, dsb, mohon izin restu dan doanya untuk mengantarkan Moch. Sroedji menjadi Pahlawan Nasional.


Terima kasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon maaf, saya mengaktifkan moderasi pada kolom komentar, untuk entri yang lebih lawas --14 hari. Salam.

RZ Hakim © 2014