Jumat, 13 Februari 2015

Kisah dari Ibu Djoeleho

Jumat, 13 Februari 2015
Mulanya saya tidak mengenal Ibu Djoeleho, perempuan sepuh yang lahir pada 1 Juli 1935. Adalah Pak Hadi Nur Prayogi, lelaki baik hati kelahiran Mojokerto, 1 November 1958, ia yang memperkenalkan saya pada sosok Ibu Djoeleho.

"Mas Hakim, di Pasar Tanjung lantai dua ada seorang Ibu sepuh yang profesinya berjualan telur. Dialah yang dulu turut memandikan jasad Moch. Sroedji. Mari, saya antarkan Mas Hakim ke beliau."

Esoknya, 4 Februari 2015, Pak Yogi mengantarkan saya, Hana, Faisal, serta Dedi Supmerah menuju rumah Ibu Djoeleho, di JL. Dr. Wahidin II Nomor 6 Jember. Senang bisa mendengar cerita yang dituturkan oleh beliau. Berikut, akan saya ceritakan kembali hasil dari dua kali perjumpaan dengan Ibu Djoeleho.

Riwayat Singkat

Djoeleho adalah putri dari pasangan Moch. Rawi dan Aminah. Kakeknya, dari pihak Bapak- bernama Ismail, yang memiliki istri bernama Singokerti. Pasangan Ismail-Singokerti adalah besan dari keluarga M. Tajib Nitisasmita, yang tidak lain adalah orang tua Rukmini, istri Sroedji.

Pak Sroedji memanggil Bapak kandung Djoeleho -Moch. Rawi- dengan sebutan Guteh. Itu istilah Madura untuk menyebut seorang Paman. Moch. Rawi memiliki adik kandung laki-laki, ia bernama Murda'i. Keduanya -Moch. Rawi dan Murda'i- adalah pejuang era pra-kemerdekaan hingga era revolusi.

Murda'i dan Ibu Kandungnya --Singokerti, mereka turut aktif saat proses memandikan jenasah Moch. Sroedji, setelah jenasahnya berhasil diminta (dari pihak Belanda) oleh seorang tukang sunat serta guru ngaji asal Kreongan bernama Dahnan.

Kelak, Djoeleho menikah dengan seorang laki-laki bernama Abd. Manan. Pasangan ini dikaruniai lima buah hati, kesemuanya laki-laki. Pandawa lima.

1. M. Irfan
2. M. Arif Effendi
3. M. Hasyim Meire
4. Suhartono
5. Abdul Latif.

Putra keempat mereka, Suhartono, meninggal dunia saat masih kecil, di usia empat tahun. Berita duka ini ditandai oleh peristiwa meletusnya Gunung Agung tahun 1963.

Abd. Manan, suami Djoeleho, ia meninggal dunia sebelas tahun yang lalu.

Saya beruntung bisa berjumpa dengan kedua putra Djoeleho, M. Hasyim Maire dan M. Arif Effendi, di rumah mereka di wetan pasar tanjung Jember. Kini mereka telah menua. Justru Ibu kandungnya yang tampak awet muda. Barangkali karena ia masih beraktivitas di usia senja, berjualan telur di lantai dua pasar tanjung, itulah kenapa ia awet muda.

Dulu Ia Satu-satunya Perias Pasaran di Jember

Perempuan yang dilahirkan di masa Bupati Jember masih dijabat oleh Wiryo Dinoto yang bergelar Noto Hadinegoro ini, ia juga menceritakan perjalanan hidupnya di masa muda.

"Di usia 25 tahun, saya sudah berani menjadi perias. Usaha ini saya rintis bersama Rumiati, adik sepupu saya sendiri." Mbah Leho memulai kisahnya.

Djoeleho, ia membangunkan imajinasi saya tentang suasana Jember tempo dulu, di tahun 1960. Karena Djoeleho baru berhenti menjalani hidup sebagai perias pada era 1990an, maka kisah yang dituturkannya tak hanya berlatar belakang Jember era 1960an saja.

"Saya ini perias pasaran, tapi sesekali juga melayani priayi. Di wilayah kota, perias pasaran hanya saya saja, tak ada lagi yang lain. Ada satu perias di era 1960an, namanya Bu Priyo, namun ia khusus melayani priayi."

Ia mengawali merias dengan make up merek Viva. "Jaman semono, nggawe viva iku wes marai kroso ayu."

Saya bertanya padanya, mengapa banyak orang yang ingin dirias olehnya? Apakah karena hanya dia satu-satunya perias pasaran? Djoeleho tersenyum. Lalu ia membuka rahasianya sebagai perias pasaran.

Setiap kali hendak merias, ia akan menjalani puasa terlebih dahulu, diperkuat dengan shalat tahajud. Jika hendak berangkat merias, Djoeleho akan memulainya dengan shalat dhuha. Ia melakukan proses merias sambil tak henti bershalawat. Kiranya ini yang menjadi kunci mengapa hasil riasannya selalu diminati banyak warga Jember.

"Urip iku kudu dilakoni tenanan. Ngrias yo ngono. Kudu dilakoni tenanan ben hasile tenanan. Umpomo dilakoni dulinan, hasile bakal dulinan."

Suatu Hari di Bulan Februari 1949

Djoeleho menatap wajah saya, lalu berpindah menatap langit-langit ruang tamu di rumahnya sendiri, kemudian ia melanjutkan kisahnya.

"Jenasahnya dilempar begitu saja dari atas truk. Terdengar suara 'bug' ketika jenasah itu mendarat. Saya ada di sana, di perempatan dekat penjara Jember. Saat itu usia saya sudah 14 tahun. Orang-orang bergerombol, namun saya justru menjauh. Takut. Saya menyeberang jalan hingga berada di dekat pos pantau penjara. Kira-kira berjarak 30 meteran dari lokasi jenasah. Orang-orang yang lewat di sana, disuruh berhenti. Tentara Belanda juga memaksa para pelajar yang bersekolah di dekat perempatan --kini SMPN 2 Jember-- untuk keluar. Dipaksanya mereka untuk melihat jenasah Sroedji. 'Kamu tahu ini siapa, heh??!' Orang-orang membisu. Takut. Tidak tega. Jika mereka pergi bakalan dibentak-bentak."

Kiranya, setelah ditempatkan di pelataran Hotel Djember, jenasah Sroedji dibawa ke perempatan itu. Djoeleho yang tadinya sempat menjauh, ia mengumpulkan kekuatan lalu memberanikan diri untuk mendekat. Menerobos kerumunan.

"Kemudian datanglah Pak Dahnan. Ia dikenal oleh masyarakat Jember sebagai calak. Tukang sunat. Rumahnya di Kreongan. Orang-orang di sekitar rumahnya memanggilnya Pak Yai, sebab Pak Dahnan punya musholla kecil. Saya berada tepat di samping Pak Dahnan ketika ia berbicara dengan para tentara Belanda. Pak Dahnan meminta agar diizinkan untuk membawa jenasah Moch. Sroedji."

Di Perjumpaan Berikutnya


Foto oleh Dedi Supmerah, 13 Februari 2015

Djoeleho tampak senang ketika kami kembali silaturahmi pada hari ini, 13 Februari 2015. Ia berkisah tentang orang terkaya di Jember wilayah kota, yang menggunakan harta bendanya untuk mewujudkan Indonesia Merdeka.

"Namanya Syamsul Arifin. Dulu, di era 1930an hingga awal 1940an, hampir semua orang mengenalnya. Ia orang yang dermawan. Ia meninggal dunia sebelum era revolusi. Tetapi ada orang lain di masa itu --era mempertahankan kemerdekaan-- yang juga kaya. Namanya Haji Syeh, putra dari Haji Alwi. Haji Syeh inilah yang turut memberikan sumbangsih harta benda untuk perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Haji Syeh, ia juga memberi sumbangsih yang tidak sedikit kepada pasukan Brigade III Damarwulan pimpinan Moch. Sroedji."

Kisah dari Ibu Djoeleho mengingatkan saya pada Almarhumah Eyang Roekanti, perempuan kelahiran Ngawi, 26 Januari 1918. Di masa hidupnya, ia menceritakan banyak hal kepada saya tentang wajah Jember tempo dulu. Percakapan itu terjadi pada 12 November 2012. Menurut Eyang Roekanti, orang terkaya di Jember sejak era 1930an adalah Salim Arifin.

"Salim Arifin, ia orang terkaya di Jember, dan bukan dari golongan pendatang manapun."

Entah mana ejaan yang benar, SYAMSUL atau SALIM, atau dua ejaan nama itu adalah dua orang yang berbeda. Saya mencatat keduanya.

Ibu Djoeleho, terima kasih.

Rabu, 11 Februari 2015

Palagan Jumerto

Rabu, 11 Februari 2015

Dari kiri ke kanan: Saya, Tante Nanik --putri Eyang Uti, Windi, dan Eyang Sutomo

Dua tahun yang lalu, tepatnya pada 25 Februari 2013, saya --bersama istri dan seorang teman bernama Windi-- datang berkunjung ke rumah Eyang Uti Sutomo. Ia adalah janda dari anggota Mobrig (Mobil Brigade, kini bernama Brimob) yang selamat dari pertempuran di Jumerto - 11 Februari 1949. Ketika itu suaminya berhasil menuju Maesan sebagai tujuan akhir perjalanan panjang Mobrig, Ponorogo - Maesan.

Pertempuran di Jumerto, 11 Februari 1949:

Tidak terbayang sebelumnya oleh warga Jumerto jika pada 11 Februari 1949 dini hari, mereka akan kedatangan tamu besar, yaitu sejumlah tiga pleton pasukan Mobil Brigade atau Mobrig. Tiga Pleton itu bukan jumlah yang sedikit. Kau hitunglah sendiri, berapa jumlah mereka jika per satu pleton-nya terdiri dari 30 prajurit Kepolisian.

Ketiga pleton prajurit Kepolisian tersebut tengah melakukan perjalanan gerilya dari daerah Malang, Lumajang, dan Jember. Karena lelah, mereka memilih untuk beristirahat di Jumerto.

Ketika itu proklamasi kemerdekaan baru berusia tiga setengah tahun. Masyarakat Jember dan sekitarnya masih mengalami nasib yang terkatung-katung. Itu semua karena isi perjanjian Renville yang secara politis menyatakan bahwa Jember --dan masih banyak lagi daerah lainnya-- bukanlah bagian dari RI, melainkan dianggap wilayah negara pesemakmuran milik Belanda.

Terjadilah hijrah besar-besaran. Situasinya sama seperti Wingate yang dilakukan oleh rombongan Letkol Moch. Sroedji. Mereka melakukan perjalanan panjang dari daerah Blitar ke daerah Besuki. Saya kira, Pasukan Mobrig dan rombongan yang dipimpin oleh Letkol Moch. Sroedji memiliki garis komando yang sama.

Sementara di sudut yang lain di desa Jumerto. Sekumpulan pasukan Koninklijk Nederlands-Indische Leger juga ada di sana. Mereka sedang melakukan propaganda untuk tujuan merebut hati rakyat Jember. Mereka tersebar di beberapa titik, sebagian membagi-bagikan gula pada masyarakat.

Sumber lain menyebutkan bahwa pasukan dari pihak Belanda bukan hanya KNIL, ada juga Gurkha, pasukan bayaran dengan slogan perang, kaphar hunnu bhanda mornu ramro chha. Lebih baik mati dari pada hidup sebagai seorang pengecut.

Tentu saja pihak Belanda mengetahui perihal kedatangan prajurit Kepolisian Indonesia, Mobrig. Sedangkan pasukan Mobrig, mereka kelelahan dan tidak menyadari jika ada bahaya yang mengintai.

Pagi harinya.

Langit Jumerto terlihat indah, burung berkicau riang, udara yang terhirup di kaki pegunungan Hyang ini terasa segar seperti hari-hari sebelumnya. Tapi pagi ini ada yang berbeda, sangat berbeda. Beberapa saat lagi, sejarah tentang Palagan Jumerto akan segera ditorehkan.

Matahari baru saja melaksanakan tugasnya saat pihak Belanda mengepung lokasi peristirahatan para pasukan Mobrig. Mereka melakukan serangan kilat. Tiba-tiba terdengar suara tembakan. Serangan tiba-tiba tanpa aba-aba ini sungguh mengejutkan pihak Mobrig. Dalam serba keterbatasan, mereka melakukan perlawanan sengit.

Kemudian sejarah mencatat, 20 warga Jumerto gugur di atas tanah kelahirannya. Sedangkan di pihak prajurit Brimob, ada 13 bunga bangsa yang gugur menghadap Sang Ilahi. Termasuk di dalamnya adalah Letkol Polisi H. Soemardiono, Kapolres Jember kala itu.

Suaminya --Sutomo-- meninggal dunia pada tahun 1991, dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Patrang.

Pada tahun 1953 hingga 1955, ketika suaminya masih ditempatkan di Jawa Barat, Eyang Uti Sutomo bersahabat baik dengan Ibu Fatmawati. Kedekatannya dimulai karena beliau adalah seorang pemain wayang orang.

"Saya dulu pernah bekerja sebagai sipil guru TK, tapi digaji oleh Angkatan Udara, karena memang TK tersebut ada di kompleks Aangkatan Udara. Saya juga pernah mengikuti pendidikan kemiliteran, karena waktu itu sedang gencar propaganda Ganyang Malaysia. Jadi meskipun perempuan, saya juga dilatih untuk menggunakan senapan. Saya ranking pertama dalam pendidikan tersebut, barangkali hanya karena yang melatih kebanyakan adalah anak buah dari suami saya sendiri."

Perempuan sepuh kelahiran tahun 1933 ini, ia masih lancar membaca buku tanpa kaca mata.

Dari Eyang Uti Sutomo pula saya mendapat gambaran jelas mengenai jalur yang pernah ditempuh oleh Mobrig di tahun 1948-1949. Ia meminjami saya buku kecil yang tipis bersampul merah, yang merupakan dokumentasi dari pihak Kepolisian Jember. Berikut akan saya tuliskan kembali, semoga bermanfaat.


WINGATE MOBRIG DARI PONOROGO MENUJU BONDOWOSO

19 Desember 1948, CLASH KE-II

Dimulai dari pelanggaran Belanda atas poin-poin Renville. Lapangan Maguwo --Adisucipto-- diserbu, terus ke pusat pemerintahan yang berkedudukan di Jogjakarta. Demikianlah kota demi kota diserbu dari udara dan darat serta diduduki. Dalam hal ini tidak terkecuali kota Madiun.

Komandan MBB mengundurkan diri ke Willis Kompleks dengan pengawalan Batalyon I dan II. Sedang MBK Madiun ke sebelah Barat, Batalyon III yang berasal dari Besuki yang hijrah karena persetujuan Renville, dipimpin PIP II M. Soekari tetap berada di daerah Ponorogo dan sekitarnya, hingga kota ini jatuh ke tangan Belanda setelah dipertahankan dengan gigih selama dua jam. Tepatnya tanggal 2 Januari 1949, jam 15.30.

Kompol I M. Jassin di samping jabatan tetapnya dan memimpin langsung serangan gerilya, diangkat sebagai Kepala Staf Gubernur Militer Jawa Timur, merangkap Komandan Keamanan yang markasnya berpindah pindahdi Sektor Madiun Timur. Batalyon I Pimpinan PIP II Wirato ditugaskan ke daerah operasi Madiun - Nganjuk. Madiun -- Pagotan dan Madiun -- Panggung serta Kempo. Sedang Batalyon II Pimpinan PIP II Lasiyono mempunyai daerah operasi gerilya batas Madiun -- Trenggalek. MBK Madiun di batas Madiun ke barat sampai Magetan.

Mengingat pertimbangan keadaan supaya POLRI berjuang merata di daerah Jawa Timur, 1 (satu) kompi dari Yon I pimpinan APP.I Paimo (Sekarang Letkolpol. Purn. Ex Danres 1052 Madiun), menyusup ke daerah Malang, bahkan sampai ke kota Malang dan memperkuat MBK Malang pimpinan IP. II. S. Samsoeri Mertojoso (Sekarang Majenpol. Purn. Jabatan terakhir Kadapol X Jatim). Sementara Yon III pimpinan PIP. II Soekari diperintahkan menyusup ke daerah Besuki daerah asalnya.


WINGATE PONOROGO - BONDOWOSO

Setelah Ponorogo diduduki Belanda, Batalyon III masih dipimpin PIP. II Soekari mengundurkan diri arah selatan. Dan di Kawedanan Jetis Kompi I Yon III dipimpin Komandan Polisi Sudarlan, sekitar jam 17.00 mengadakan serangan mendadak atas pos Belanda di Pasar. Dan mengakibatkan banyak korban di pihak Belanda. Namun ketika hendak mengambil bren dari seorang serdadu Belanda yang mati terkena tembakan, Komandan Polisi Sudarlan ditembak dan pejuang asal Temanggung Magelang ini gugur. Bersamaan dengan itu gugur pula (23). AP. III KACUNG (asal Kecamatan Besuki - Bondowoso) (24) AP. III. Sutono. B (asal Kecamatan Balung - Jember).

Sesampai di desa Jarak (8 km sebelah timur Ponorogo) mengadakan konsolidasi. Dan dengan adanya perintah penyusupan ke daerah Bondowoso, maka tanggal 10 Januari 1949 dimulailah wingate Ponorogo - Bondowoso. Jumlah kekuatan 1 batalyon (terdiri dari 450 anggota berikut anggota Bhayangkarinya yang berpakaian seragam dan bersenjata. Di samping itu terdapat dua orang anggota Akademi Militer Nasional (AMN) Magelang, masing-masing Muhamad dan Sudaryono yang telah menggabungkan diri dalam pasukan Yon III MBK Besuki dan terus mengikuti wingate serta bersama-sama bergerilya di daerah Maesan - Bondowoso.

Dengan bantuan penduduk sebagai petunjuk jalan, pasukan bergerak dari desa Jarak menuju perbatasan Kabupaten Trenggalek melalui desa Rokem, Bandrang, Ngrundeng, Sawo (Kota Kecamatan) memotong medan berat menuju desa Tumpakpelem, Temon dan Tugu (Kota Kecamatan Kabupaten Trenggalek). Karena pada waktu itu daerah Trenggalek belum diduduki Belanda, maka gerakan mulai dari desa Temon/Tugu melalui jalan besar melintas kota Trenggalek, menuju desa Durenan, ke Kota Kecamatan Campurdarat. Di desa Pelem bertemu dengan rombongan Panglima Besar Soedirman minta agar sepucuk senapan Mesin cal 77 milik pengawal Panglima Besar ditukar dengan senjata ringan sejumlah 12 pucuk, dan dengan rela permintaan Panglima Besar tersebut kita cukupi karena senjata kita cukup banyak sebagai hasil rampasan dari PKI di Ponorogo.

Dari Campurdarat, wingate mengarah ke timur menuju Blitar melalui desa Kalidawir - Ngubalan - Ketanen - dan Maron. Dari Maron menuju Ludoyo Selatan melalui Pakishaji - Surowadang - Gunung Gede - Ngeni - Kaligambang - Panggungrejo - Binangun - sampai desa Wates perbatasan Kabupaten Malang.

Perjalanan melintasi Blitar Selatan, tercatat yang paling berat. Karena selain medan yang tidak rata, pegunungan yang tandus, menerobos hutan dan perkebunan, selama dua hari tidak menjumpai sesuap nasi maupun jagung, kecuali tebu dan buah kelapa. Bahkan air yang bersih sulit dicari. Barulah memasuki daerah Malang menuju desa Purworejo melintasi Kecamatan Donomulyo. Dilanjutkan ke Tempursari, Sumbermanjing Kulon - Bantur - Sumbermanjing Wetan, dan desa Klepu. Di desa inilah disambut Komandan PDM Mayor Abd. Kahar dan diberi tempat untuk istirahat, serta bekal makanan untuk beberapa hari. Dan secara kebetulan Mayor Abd. Kahar (sekarang Letkol. Purn. TNI/AD) sewaktu clash ke I bergerilya bersama di daerah Jember. Dari Klepu melanjutkan perjalanan ke Semeru Selatan melewati perkebunan Kalibokor dan Sumber Urip.


PERTEMUAN DENGAN TENTARA PELAJAR

Di Perkebunan Sumber Urip, bertemu kembali dengan pejuang-pejuang Tentara Pelajar (TRIP) Besuki, yang ketika clash ke I bahu membahu dalam satu front di daerah Panduman - Jember Utara. Mereka antara lain, Aris Moenandar dan Moedjoko. Kini sudah menjadi alumni PTIK dengan pangkat Kolonel Polisi.

Sejumlah 22 orang rekan-rekan TRIP menggabungkan diri dan dipersenjatai kembali, lalu bersama-sama melanjutkan penyusupan ke daerah Besuki, di daerah basis gerilya semula sebelum hijrah.

Daerah Malang Selatan dan Semeru Selatan walau pada umumnya diduduki Belanda, tetapi de Facto masih di tangan kita. Oleh karenanya maka di daerah ini kita bisa mendapatkan istirahat serta makan yang cukup atas bantuan rakyat setempat. Demikian juga koordinasi dengan angkatan darat sangat erat tanpa membedakan daerah maupun kesatuan asal.

Wingate dilanjutkan melalui Purwojiwo yang telah berhasil direbut pasukan-pasukan bersenjata kita. Kemudian menuju desa Penanggal - Kertosari - Tumpeng - Jokarto, memotong jalan besar Lumajang, Pasirian. Di desa Tempeh Lor menuju desa Kaliwungu - Wonokerto - Genteng - Wotgalih - dan desa Tujungrejo Kecamatan Yosowilangun.


JASA SEORANG KEPALA DESA

Kesulitan besar menghadang ketika sampai desa Wotgalih. Sungai Bondoyudo yang merupakan perbatasan dengan Karesidenan Besuki sedang banjir besar. Sedang desa Meleman satu-satunya jalan penyeberangan para gerilya dijaga Cakra dan Polisi Federal. Hampir saja keputusan menghancurkan jembatan dilakukan, tetapi kepala desa Tunjung Rejo memberi uluran tangan dengan menampung pasukan dan melindungi hingga tiba saatnya untuk melakukan penyeberangan. Dan atas usaha kepala desa tersebut para penjaga terutama Cakra yang bertugas menjaga satu-satunya jembatan Yosowilangun bisa dibujuk sehingga semua pasukan dapat dengan selamat melewati jembatan masuk wilayah Besuki.

Rute gerilya daerah Besuki diarahkan ke utara melalui desa Gadumasan - Sariyono - Rowotengah - memotong jalan besar Sukokulon - Manggisan - Darungan - Selodakon - Badean - Suci - Banjarsengon dan Jumerto, dengan maksud untuk langsung memasuki daerah basis gerilya yaitu daerah Maesan. Rupanya, penyeberangan kita di jembatan Yosowilangun telah diketahui Belanda, sehingga rute perjalanan pasukan terus diikuti, dan di desa Jumerto pasukan kita dicegat.


SUATU PAGI DI DESA JUMERTO

25 Januari 1949 (seharusnya 11 Februari 1949). Pagi-pagi buta sekitar jam 05.00 pasukan Belanda mengadakan operasi di desa Jumerto. Batalyon III MMB Jawa Timur beserta TRIP dalam keadaan lelah namun senantiasa siaga untuk menghadapi setiap kemungkinan, dengan maksud untuk beristirahat di desa Jumerto. Tiba-tiba Belanda melakukan serangan dan pertempuran di jantung desa menjadi semakin seru. Bahkan pertempuran jarak dekat tak bisa dihindarkan lagi. Hal ini menyebabkan korban di kedua belah pihak sangat besar, bahkan termasuk penduduk setempat.

Belanda merasa terdesak dan mundur. Namun beberapa saat kemudian dengan dukungan pasukan dari Jember maupun Pos di Kecamatan Panti dan Perkebunan Rayap. Pertempuran yang berlangsung sampai jam 11.00 menghantar gugurnya 9 orang pahlawan lagi, masing-masing (1) AP. I Soradji, (2) AP. I Surono, (3) AP. III Sasono, (4) AP. III Achmad, (5) AP. III Soebari, (6) AP. III Soewito, (7) AP. III Soeroso (8) AP. Moedjasmidi, (9) AP. III Maslich dan seorang rekan dari TRIP Sarwono.

Di desa Klungkung diadakan konsolidasi karena beberapa anggota belum nampak hadir, maka inspektur Polisi Tk. II Koesnadi (asal gabungan) dan AP. II Kasim yang mengenal daerah Jember Utara berusaha mencari teman-teman yang belum berkumpul. Di desa Karang Pring, keduanya kepergok patroli Belanda yang langsung menembak di tempat itu juga, dan gugurlah kedua pahlawan tersebut.

Pasukan segera melanjutkan gerakan menuju desa Socah Cangkring perbatasan Kabupaten Jember - Bondowoso sebagai markas gerilya semasa clash I dengan melewati Slawu - Bintoro - Langsat, Penduman (markas TRIP) - Cangkring, Socah sebagai tujuan akhir. Setelah istirahat sejenak PIP. II Soekari melaporkan diri kepada Mayor E.J. Magenda (kini telah almarhum dengan pangkat Mayjen TNI/AD) yang semasa clash ke I bergerilya bersama-sama di daerah Kabupaten Bondowoso.

Langkah berikutnya menempatkan team-team gerilya di desa-desa yang pernah ditempati sebelumnya. Sebaliknya Belanda dengan kaki tangannya juga gencar melaksanakan operasi ke sarang-sarang gerilya. Beberapa anggota masyarakat tak jarang menjadi sasaran tembakan ataupun penangkapan dan penganiayaan karena dianggap melindungi para gerilyawan. Pasukan musik tradisional Patrol (ronda malam di daerah tersebut, terkenal indah lagu-lagunya) merupakan sarana yang paling penting untuk mengetahui setiap gerakan musuh pada malam hari.

27 DESEMBER 1949, PENGAKUAN KEDAULATAN

Dengan tercapainya pengakuan kedaulatan Kemerdekaan, Batalyon III MBB mengadakan konsolidasi di Kecamatan Arjasa dan Kalisat Kabupaten Jember untuk persiapan pasukan memasuki Bondowoso.

Komandan Yon III menuju Madiun untuk menyampaikan laporan kepada Komandan MBB Jawa Timur. Kemudian diakui dan ditetapkan kembali pada status semula sebelum perang kemerdekaan I dan II menjadi Mobile Brigade Karesidenan Besuki.

Setelah memasuki Bondowoso, atas perintah Kepala Polisi Karesidenan Besuki Kompol I Suhud (Almarhum Brigjenpol. Purn. jabatan terakhir Kadapol VII Metro Jaya), membentuk detasemen di masing-masing ibu kota dalam jajaran Karesidenan Besuki dalam rangka mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada aparat keamanan, yang pada waktu itu anggota-anggota kepolisiannya adalah bekas-bekas anggota Polisi Belanda.

PENUTUP

Kepada segenap rekan seperjuangan panitia minta maaf, apabila dalam penyusunan riwayat perjoangan terdapat kekurangan/kesalahan. Koreksi-koreksi sangat kami harapkan untuk penyempurnaan tulisan/catatan sejarah ini, agar adik-adik penerus mendapat gambaran sejarah perjoangan yang sebenarnya.

Selasa, 10 Februari 2015

Darah Joang Sroedji

Selasa, 10 Februari 2015

Dari newsletter Kopi Darat, 31 Agustus 2007

Darah Joang Sroedji

"Kalau melihat perhatian terhadap Moch. Sroedji, bahkan dengan sepak terjang perjuangannya yang sangat heroik dan dramatik, diabaikan oleh 'Jember.' Jangan-jangan orang Jember lebih memilih berprestasi di luar kota karena Jember tak memberikan penghargaan yang layak atas pencapaian sebuah prestasi... Mestinya Jember melakukan kebijakan kebudayaan..."

(Didik, dosen Fak. Sastra, UNEJ)

Seperti yang sudah diduga sebelumnya, Siaran Apresiasi Budaya yang mengambil tema Tugu Sroedji: Kenangan yang Merana, Jum'at, 31 Agustus 2007, berlangsung dengan hangat dan inspiratif. Pernyataan para narasumber dan respon peserta percakapan yang hadir di studio menggambarkan alangkah Moch. Sroedji 'masih' merupakan sosok pahlawan besar di kota Jember; suatu hal yang tak sebanding dengan perhatian yang diberikan oleh Pemerintah Kabupaten Jember. Bahwa, menurut Bapak Supardi (dosen FISIP-Universitas Moch. Sroedji) yang menjadi narasumber malam itu, bentuk perhatian nyata pemerintah Jember yang diberikan atas perjuangan Sroedji adalah janji yang dicetuskan pemda untuk memelihara Tugu Perjuangan Sroedji dan Masjid yang dibangun keluarga Sroedji untuk mengenang semangat heroik Sroedji. Namun janji Pemkab Jember yang dicetuskan saat peresmian Tugu Sroedji itu akhirnya cepat dilupakan seperti ruas jalan beraspal menuju Tugu Sroedji yang cepat menjadi jalan tanah kembali saat ini. Tentang cedera janji yang dilakukan oleh Pemkab Jember ini Bapak Supardi, yang juga sebagai pengemban amanat yang dipercayai oleh keluarga Moch. Sroedji untuk merawat Tugu dan Masjid, mengatakan, "...Pemkab Jember meninggalkan tanggung jawab untuk merawat Tugu dan Masjid yang dibangun oleh keluarga Sroedji."

Sejalan dengan kutipan pembuka tulisan ini dan ilustrasi sifat abai Pemkab Jember yang dinyatakan Bapak Supardi, Mbah Fadli Rasyid (perupa dan sastrawan), dengan nada bicara yang dibalut tebal empati, membandingkan nikmat kehidupan yang dapat dirasakan di alam kemerdekaan dengan kehidupan yang dijalani Sroedji dan laskarnya di masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Jika dibandingkan saat ini ketika kita dapat makan dan minum apa yang kita mau, alangkah laskar Sroedji harus "mencuri daun singkong untuk makan dan harus minum air selokan" untuk sekedar mempertahankan hidup dan dapat terus melakukan perjuangan. Selanjutnya Mbah Fadli juga membandingkan kemegahan pembangunan gedung-gedung pemerintahan dan komersial dengan kondisi Tugu Sroedji yang mungkin akan membuat arwah Sroedji mengelus dada. Namun, menurut Mbah Fadli, "Sekarang Sroedji tak bisa menangis lagi karena sepasang mata, tangan dan kakinya telah dicongkel oleh Belanda." Untuk itu, Mbah Fadli mengusulkan pembangunan monumen Sroedji yang lebih layak dan lebih informatif dibandingkan dengan Tugu yang ada saat ini. Untuk pembiayaan yang diperhitungkan akan memakan dana cukup besar, Mbah Fadli mengharapkan tergugahnya masyarakat Jember untuk menyisihkan sebagian uang jajan mereka untuk dikumpulkan guna membiayai pembangunan monumen;

"Jika dalam sebulan kita menghabiskan tiga puluh bungkus rokok, kita bisa menyisihkan dua bungkus sebulan untuk pembiayaan monumen Sroedji."

Berdasarkan pengalamannya ketika mengusulkan pembangunan monumen Sroedji kepada Pemkab Jember yang sama sekali tak ada tanggapan, Mbah Fadli berpendapat bahwa Pemkab Jember tak bisa diharapkan perannya dalam upaya pembangunan monumen tersebut. Untuk itu, menurut Mbah Fadli harus ada prakarsa dari masyarakat, yang pertama-tama dapat berbentuk wadah kepedulian terhadap perjuangan Sroedji terlebih dahulu.

Melengkapi kisah historis Sroedji dan kematian tragis yang harus dijemput Sroedji di tangan serdadu Belanda, Gus Afton (pengasuh Pondok Pesantren Al Fath sekaligus pemerhati sejarah lokal Jember) menyatakan bahwa, tanpa mengecilkan arti perjuangan yang dilakukan pahlawan lain, perjuangan yang dilakukan Sroedji, komandan resimen yang membawahi tiga batalyon, benar-benar heroik dan dramatik. Long Mars (hijrah) yang dilakukan laskar Sroedji dari Jember ke Malang hingga Kediri (Blitar menurut Mbah Fadli) lalu kembali lagi ke Jember akibat dari disepakati dan 'dibatalkannya' perjanjian Renville yang mempersempit wilayah Republik Indonesia benar-benar menjadi media kaderisasi para pejuang dan berfungsi untuk menjaga kedaulatan negara. Bahkan Gus Afton membandingkan long mars laskar Sroedji dengan long mars di China ketika China melakukan gerakan Revolusi Kebudayaan di bawah pimpinan "Paman" Mao atau Mao Tse Tung. Menurut Gus Afton, yang sudah mengkaji dan menulis sejarah sejumlah pejuang "lokal" Jember, salah satu media paling efektif untuk menularkan dan menumbuhkan semangat juang Sroedji di dada generasi muda saat ini adalah buku. Sejalan dengan gagasan yang dikemukakan penelpon dari Kaliwining, Bapak Saiful, Gus Afton juga mengharapkan sejarah perjuangan para pahlawan lokal, termasuk Sroedji, dapat dimasukkan dalam kurikulum mulok (muatan lokal) di sekolah-sekolah SD dan SMP di Jember. Gus Afton berpendapat dengan penulisan dan pembukuan serta pengajaran mengenai peran para pejuang lokal maka hal ini akan memberikan pengenalan yang lebih lengkap mengenai sejarah Jember kepada generasi muda saat ini. Hal ini juga akan dapat menepis ilustrasi pahit yang dikemukakan oleh Isnadi dalam pengantar diskusi mengenai percakapan ayah dan anak tentang siapa sosok yang dipatungkan di depan gedung Pemkab Jember.

Menanggapi usulan memasukkan kisah historis perjuangan Sroedji ke dalam kurikulum mulok di SD dan SMP di Jember, Mbah Fadli, dalam pernyataan yang kemudian, mengingatkan bahwa kisah sejarah itu harus ditulis dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh murid-murid pada tingkat pendidikan tersebut. Selanjutnya Mbah Fadli juga memaparkan nilai strategis (historis) dan ekonomi dalam pelaksanaan Napak Tilas perjuangan Sroedji dibandingkan dengan gerak jalan Tanggul - Jember yang dinilainya sekedar hiburan.

Bagaimanapun persoalan Tugu Sroedji adalah persoalan pewarisan ingatan akan nilai kebangsaan. Kondisi tugu dan patung dan pengabdian nama jalan tokoh ini belum cukup mewarisi apa-apa. Hal inilah yang kembali ditegaskan Pranoto. Monumen tidak hanya penting sebagai fokus spirit perjuangan tapi juga mesti memuat informasi yang menggambarkan gerak dan peristiwa yang terjadi ketika peristiwa heroik Sroedji berlangsung. Tidak hanya pencantuman nama-nama pahlawan, namun bisu. Disamping itu, monumen itu juga bisa memiliki nilai tambah secara ekonomis bagi masyarakatnya. Seperti yang terjadi di makam Bung Karno di Blitar yang memberikan nilai ekonomis bagi masyarakat sekitar. Ingatan terwariskan dan ada dampak ekonomis dan mental bagi masyarakatnya.

Lebih luas dari apa yang dinyatakan oleh Gus Afton yang melihat nilai lokalitas Jember dalam perjuangan Sroedji, Isnadi justru menilai perjuangan yang dilakukan oleh Sroedji dan laskarnya mempunyai dimensi nasional. Hal ini didasarkan oleh tanggung jawab kewilayahan yang diemban oleh Moch. Sroedji sebagai komandan resimen yang membawahi tiga batalyon, Banyuwangi, Bondowoso, dan Jember. Rute hijrah Sroedji dari Jember ke Malang hingga Kediri, juga membuat dimensi kejuangan Sroedji dapat dilihat lebih dari sekedar bernilai lokalitas Jember. Apalagi jika ditinjau dari tempat kelahiran Sroedji, yaitu Bangkalan (menurut Mbah Fadli). Dari seluruh argumen yang disusun, bisa jadi Isnadi hendak melepaskan atau menepiskan sentimen kedaerahan berlebihan yang tergali dari sosok dan perjuangan Sroedji. Bahkan untuk menguatkan argumennya Isnadi juga melemparkan pertanyaan retoris: "Siapa sih yang dapat disebut orang asli Jember?"

Hampir senada dengan Isnadi, Achmad Taufiq menitik-beratkan perjuangan Sroedji pada semangat cinta tanah air yang dikandungnya. Taufiq menggeret nilai perjuangan Sroedji ke dalam realitas aktual masa kini sebagai penebal rasa cinta tanah air yang pada saat ini dirasakan telah tergerogoti. Bertolak dari hal ini Taufiq memandang pentingnya pendidikan kebangsaan untuk mengembalikan rasa cinta tanah air, terutama pada generasi muda.

Berbeda namun juga melengkapi usulan Mbah Fadli dan Gus Afton mengenai bentuk apa yang dapat dijadikan untuk mengenang semangat juang Sroedji dan menularkannya pada generasi muda, Ilham (dosen fak. Sastra Unej) berpendapat bahwa bentuk film akan dapat lebih menjangkau khalayak. Ilham juga berpendapat bahwa biaya pembuatan film sejarah perjuangan Sroedji jauh lebih murah dibandingkan dengan biaya membukukannya atau membangunkannya monumen. "Mengingat hampir seluruh rumah di Jember sudah ada televisi, bentuk film ini sungguh sangat efektif untuk dapat menyebarkan kisah historis perjuangan Sroedji," papar Ilham. Tentang efek penyebaran dalam bentuk film ini Ilham mengingat alangkah berhasilnya film G 30 S/PKI, pernah diputar tiap tahun untuk memperingati Hari Kesaktian Pancasila, membentuk ingatan akan sosok anggota PKI.

Hal yang menarik dalam pembicaraan mengenai tema Tugu Sroedji: Kenangan yang Merana ini adalah munculnya tiga usulan yang berbeda, namun juga melengkapi, mengenai bentuk apa yang dianggap dapat mengawetkan kenangan akan perjuangan Moch. Sroedji sekaligus diharapkan dapat menumbuhkan nilai-nilai cinta tanah air bagi generasi muda. Ternyata perjuangan Sroedji, bukan saja dapat menjadi teladan watak heroik dan rasa cinta tanah air, namun perjuangan Sroedji juga, disadari atau tidak, menginspirasikan gagasan kreatif pada orang-orang yang mengagumi perjuangan Sroedji. Alangkah, jika saja tiga bentuk pengawet kenangan perjuangan Sroedji itu dapat diwujudkan sekaligus! Namun untuk saat ini kita harus menerima kenyataan, bahkan, seperti dikatakan Bapak Supardi, jalan menuju Tugu Sroedji akan berubah menjadi seperti jalan setapak berlumpur jika musim hujan. Bukan tidak mungkin nama Sroedji suatu saat akan jadi sekedar nama yang selalu ditanyakan anak cucu kita dan kita pun tak punya jawaban apa-apa. Lalu dari mana lahirnya Indonesia ketika kita semua lupa. ed. 13/Agustus.2007

Kamis, 05 Februari 2015

Ide SOGA Institute Yang Terbengkalai

Kamis, 05 Februari 2015
1. Perkenalan pertama dengan Farid Solana dan Gamar Tan dari SOGA Institute

Pada 29 Desember 2014 yang lalu, seorang teman bernama Wisnu mengenalkan saya pada temannya, Farid Solana. Kata Wisnu, dulu Farid adalah teman sekolahnya, saat mereka sama-sama belajar di SMPN 2 Jember tahun 1993-1996. Dalam pertemuan perdana ini, Farid tidak sendirian melainkan berdua dengan seorang perempuan bernama Gamar Tan, perempuan asal Lombok. Kata Farid, Gamar adalah istrinya. Saya juga tidak datang sendirian, tapi berdua dengan istri saya, Zuhana Anibuddin Zuhro.

Saat saya berkenalan dengan teman baru, Farid Solana dan Gamar Tan, di Perkebunan Sentool sedang terjadi bencana tanah longsor.

Perjumpaan Wisnu dan Farid:
Sebelum pertemuan ini, Wisnu dan Farid telah terlebih dahulu berjumpa. Sudah lama sekali mereka tidak pernah bertemu. Berikut adalah penuturan dari Wisnu.

"Kamis, 24 Desember 2014, Farid ke kantorku sekitar jam satu siang, lalu lanjut ke Macapat Cafe. Kita bicara sekilas tentang SOGA. Sesok'e jam siji aku mampir ke rumah sampean, sekilas bicara tentang SOGA dan kemungkinan sampeyan iso bantu opo ora."

Dari perjumpaan perdana ini --Bertempat di Macapat Cafe, saya menjadi tahu jika mereka berdua memiliki sebuah institusi mandiri bernama SOGA Institute. Menurut Wisnu, SOGA adalah singkatan dari kedua nama mereka, Solana dan Gamar. Sebelumnya saya tidak pernah mendengar nama SOGA Institute.

"Jadi begini Mas Hakim. Kami mewakili SOGA Institute ingin membuat acara di Jember, Project Talk Show Ekonomi Outlook 2015. Kami berencana menggelar acara ini pada 24 Januari 2015, direncanakan bertempat di Gedung Soetardjo Universitas Jember."

Itu diucapkan oleh Gamar Tan, istri Farid Solana. Ia juga bercerita jika Project Talk Show ini adalah untuk memperingati satu tahun SOGA Institute yang berdiri sejak Januari 2014.

Lalu mereka berdua melanjutkan pembicaraan dengan menyebutkan nama-nama tokoh nasional yang bergerak di bidang ekonomi, juga nama-nama para pakar dan pengamat ekonomi, sesuai dengan rencana acara yang mengangkat tema pandangan ekonomi. Karena bukan bidang saya, hanya sedikit saja nama-nama yang akrab di telinga saya.

"Mungkin Mas Hakim ada usulan?"

Saya menyebutkan nama Metta Dharmasaputra. Usulan saya disambut tawa oleh Farid Solana. Kata Farid, Metta tidak mungkin mau diundang oleh SOGA Institute, apalagi saat pihak pengundang menyebut nama Farid Solana. Katanya, ia dan Metta Dharmasaputra pernah bersitegang dalam satu hal. Mereka berbeda pandangan. Entah tentang apa, saya tidak tahu. Ketika saya bertanya, Gamar Tan yang menjawab. Ia bilang, "Pokoknya ada deh Mas."

Istri saya hanya diam, ia terlihat kikuk. Barangkali karena duabelas hari lagi --10 Januari 2015-- ia ada jadwal diskusi di Jakarta dengan penulis buku berjudul Saksi Kunci , Metta Dharmasaputra.

Setelah selesai bicara tentang tokoh-tokoh ekonomi yang direncanakan untuk didatangkan di Jember, mereka lalu bertanya tentang siapa kira-kira tokoh lain yang memungkinkan bisa menyedot aspirasi masyarakat Jember (untuk datang di acara) saat mereka dijadikan salah satu pembicara. Mereka mengistilahkan pembicara di luar bidang ekonomi adalah sebagai pemanis. Diusahakan pemanisnya adalah budayawan atau tokoh yang telah dikenal luas oleh masyarakat Jember.

Gamar Tan menyebutkan nama-nama populer seperti Anang Hermansyah, Ahmad Dhani, Sujiwo Tejo, dan sederet nama lainnya. Saya mengusulkan Cak Nun, tapi mereka terlihat tidak antusias.

"Kalau ngundang Cak Nun ribet Mas, kita harus angkut juga Kiai Kanjeng beserta seperangkat alat musiknya," kata Gamar Tan.

"Jika Andreas Harsono bagaimana menurut Mas Hakim dan Mbak Hana?" Kami tentu sedikit terkejut ketika mereka bertanya tentang Andreas Harsono. Saya bilang pada mereka untuk menghubungi sendiri. Saya kira mereka sedang mencari tokoh 'pemanis' yang punya keterikatan emosional dengan Jember.

Perbincangan selanjutnya meloncat-loncat, tak lagi membicarakan Andreas Harsono.

"Ohya Mas Hakim. Hari ini kami sudah mengurus perihal sewa Gedung Soetardjo Universitas Jember, tinggal proses pembayarannya saja yang belum dilakukan. Rencananya besok saya dan Mas Farid akan membayarnya, sembilan juta rupiah."

Gamar Tan melanjutkan, "Tadi saya juga telah nembusi Prosalina Radio untuk urusan woro-woro acara. Di sini murah banget ngiklan di radio ya Mas. Prosalina cuma minta Rp. 12.500.000,-"

Sejujurnya saya sulit menelaah ucapan Gamar Tan. Untuk ukuran saya dan teman-teman di daerah, jumlah yang disebutkan itu besar sekali. Saya tidak biasa membuat acara yang besar. Biasanya saya dan teman-teman di Keluarga Tamasya mewujudkan sebuah acara secara kolektif, dan itu tidak besar. Tentu Project Talk Show Ekonomi Outlook 2015 yang digagas oleh SOGA Institute ini bukan acara kecil. Mereka berencana mengundang Menteri Ekonomi Chairul Tanjung, Emil Salim, Sujiwo Tejo, sudah pasti butuh bantuan di bidang teknis pelaksanaan. Saya bilang pada Farid dan Gamar, kenapa mereka tidak meminta bantuan teman-teman EO saja? Adapun yang saya dengar di hari pertama perkenalan ini, mereka enggan bekerja sama dengan EO maupun LSM, entah mengapa.

Mereka juga bertanya kepada saya tentang radio mana lagi yang sekiranya bisa dipakai untuk sounding acara.

Hari itu juga saya mengirim pesan pada seorang teman lama, Sigit namanya. Kebetulan ia jurnalis Kiss FM Jember. Sigit segera membalas pesan saya dengan langsung menelepon, lalu dilanjut dengan mengirimkan pesan. Dia ingin saya menghubungi seseorang bernama Dimas, karyawan Kiss FM yang mengurus bagian iklan. Nomor dari Sigit saya berikan pada pasangan Farid-Gamar, mereka segera mencatatnya namun tak segera menghubungi.

Perjumpaan perdana dengan Farid Solana dan Gamar Tan juga saya tulis di catatan lain, berjudul; Berkenalan Dengan Teman Baru.

Sebenarnya ada dua hal yang ingin saya dengar secara detail dan terstruktur dari mereka berdua. Pertama, tentang apa itu SOGA Institute, yang kedua adalah alasan mengapa mereka ingin membuat Project Talk Show Ekonomi Outlook 2015 di Jember.

Hari itu, ketika mereka dianjurkan --oleh Wisnu-- untuk menceritakan visi misi SOGA Institute kepada saya, mereka selalu bilang, "Kami punya website kok Mas, tinggal dibaca di sana." Iya benar, mereka memiliki website dengan alamat soga-institute dot org. Sayang, mereka lebih memilih untuk menggunakan Bahasa Inggris dalam setiap catatan di website SOGA Institute.

Di perjumpaan itu saya tidak mendengar argumentasi lugas mengenai alasan mengapa mereka ingin membuat Project Talk Show Ekonomi Outlook 2015 di Jember. Saya mengira, mungkin Farid Solana ingin membuat sesuatu di Jember atas nama masa kecil hingga ia menyelesaikan SMA. Juga, berniat mencerdaskan kehidupan bangsa.

Saya kira mereka memiliki niat yang baik. Tentu saya bersedia membantu semampu yang saya bisa.

Dua Project: Talk Show Ekonomi Outlook dan mimpi membuat Perpustakaan besar di Jember.

Kesimpulan dari perjumpaan perdana ini adalah tentang membahas dua project. Yang pertama adalah tentang Project Talk Show Ekonomi Outlook 2015 di Jember, berikutnya adalah membahas rencana pembuatan Perpustakaan di Jember.

"Kami masih mencari tempat untuk Perpustakaan, kalau bisa di dekat-dekat kampus Mas, biar enak. Kalau bisa lagi, tempatnya agak besar, jadi ada ruang khusus untuk diskusi. Mengenai biaya, sudah ada dana dari SOGA Institute untuk ini."

Perihal Perpustakaan yang dicita-citakan, direncanakan akan kami diskusikan di waktu yang lain. Kami lebih fokus pada perbincangan untuk project yang satunya lagi. Sayang sekali, di hari-hari selanjutnya, mereka tak pernah lagi menyinggung rencana pembuatan perpustakaan.

Poin yang didapat dari perjumpaan di hari ini, kami akan membantu sebisa mungkin. Salah satunya dengan cara mencarikan rekan yang mau untuk menjadi bagian kepanitiaan Talk Show. Itulah kenapa di perjumpaan perdana ini, saya juga memperkenalkan mereka pada teman-teman Macapat Cafe. Dian Teguh Cetar, Adi Nugroho, Yudha, dan Budi. Mereka bersedia membantu di bidang teknis.

Hasil dari perkenalan awal ini melahirkan sebuah janji. Kami akan berjumpa lagi esok harinya, Selasa, 30 Desember 2014. Tempat pertemuannya sama, masih di Macapat Cafe.

2. Sama-sama menepati janji perdana, tetapi kami tidak berjumpa

Selasa, 30 Desember 2014

Pada pukul 19.00 saya dan istri meluncur ke Macapat Cafe. Saat itu saya juga menghubungi beberapa rekan lain yang direncanakan hendak membantu ide rekan Wisnu yaitu Farid Solana. Janjiannya memang pukul setengah delapan, setelah Isya. Namun kami meluncur terlebih dahulu.

Untuk ukuran hari Selasa malam, suasana Macapat Cafe ramai sekali oleh pengunjung. Saya menebarkan pandangan ke sekeliling, rupanya Wisnu dan kedua rekannya masih belum hadir. Wisnu baru datang sekitar satu jam kemudian. Dia bilang, "Mau jare Farid wes mrene, jam setengah wolu, tapi sampeyan durung teko." Barangkali dia tidak melihat posisi saya duduk, sebab pengunjung Macapat Cafe memang sedang ramai sekali.

Saya membuat catatan ringan di sini.

3. Perubahan Jadwal Project Talk Show Ekonomi Outlook 2015

Perjumpaan pada 02 Januari 2015 ditandai dengan kabar tentang perubahan jadwal Project Talk Show Ekonomi Outlook 2015, dari yang seharusnya 24 Januari 2015 berubah menjadi 26 Februari 2015.

Jumat, 2 Januari 2015, menjadi pertemuan kedua antara saya dan pasangan Farid Solana-Gamar Tan setelah kami gagal berjumpa di janji pertemuan sebelumnya, 30 Desember 2014. Kali ini lokasinya masih sama, di Macapat Cafe, sore hari. Saya datang sendirian sebab pada pagi-pagi sekali Hana telah berangkat ke Jakarta dengan memanfaatkan layanan transportasi kereta api.

Ketika saya telah sampai di Macapat, Wisnu masih perjalanan dari Garahan. Dia sempat menelepon saya, bertanya apakah saya mau dibawakan pecel Garahan? Tentu saja saya mau. Pecel Garahan memiliki pelepah dan sayur yang khas, sulit untuk menolaknya.

Pada perjumpaan kali ini sengaja saya membawa Achmad Bahtiar a.k.a Bebeh. Manalah saya tahu jika ternyata Bebeh juga teman satu sekolah dengan Farid Solana di SMPN 2 Jember tahun 1993-1996, serta di SMAN 1 Jember tahun 1996-1999.

Bebeh dan Farid saling canda:

"Wingenane tanggal 29 Desember bengi, bojone Bro --Hakim-- telepon aku. De'e bicara tentang ide koncone Wisnu Ambon, jare arep ngadakne Talk Show tentang Ekonomi Outlook nang Jember. Tak takoni, sopo jenenge koncone Wisnu? Jare Prit, Farid Solana. Terus aku takon maneh, Farid Solana kentang tah? Oalah, iku ngono koncoku sekola."

Kami tertawa bersama-sama. Mulanya saya tidak menyangka jika Farid Solana adalah teman Bebeh satu sekolah. Obrolan selanjutnya lebih banyak bercanda daripada serius. Bebeh tampak senang bisa nggojloki teman lamanya.

"Farid iki wingi dadi tim sukses Capres Nomor 1 rek. Koyok'e saiki Farid akeh duite."

Saya turut tertawa, menertawakan cara Bebeh tertawa. Kegembiraan yang alami dan apa adanya. Sebelumnya, Farid pernah bekerja di salah satu perusahaan besar di Indonesia. Ia juga pernah berproses di dunia jurnalisme profesional selama satu tahun.

"Dadi jurnalis ojok suwi-suwi Beh, setaon thok wes cukup. Sing penting wes nduwe relasi," kata Farid pada Bebeh.Guyon-guyon itu sempat terhenti manakala Wisnu datang. Benar juga, dia membawa beberapa bungkus pecel pincuk Garahan.

Ada kabar segar mengenai Project Talk Show yang direncanakan bakal digelar pada 24 Januari 2015. Rupanya terjadi perubahan waktu.

Menurut Gamar Tan, ketika mereka akan melakukan pembayaran sewa Gedung Soetardjo, pihak Universitas Jember bertanya seputar acara, serta siapa saja pembicaranya. Saat mendengar bahwa acara itu direncanakan hendak mengundang beberapa tokoh Nasional, pihak Universitas Jember memberikan daya tawar. Bagaimana jika mereka dilibatkan dengan cara menyertakan logo Universitas, pidato pembukaan oleh Rektor Universitas Jember dimasukkan dalam daftar acara, serta memundurkan jadwal acara dari yang semula direncanakan digelar pada 24 Januari 2015 menjadi tanggal 26 Februari 2015. Alasannya, selama bulan Januari mahasiswa Universitas Jember masih libur, sayang sekali jika mereka tidak bisa mengikuti acara ini. Jika daya tawar tersebut diterima oleh Farid dan Gamar, maka penggunaan Gedung Soetardjo tidak perlu uang pembayaran sejumlah sembilan juta rupiah alias gratis.

Mereka mengiyakan bargaining dari pihak Universitas Jember. Itu yang saya dengar dari Gamar Tan. Hebat sekali, pikir saya.

Untuk urusan sounding di radio -Prosalina FM- akan di launch pada 3 Februari 2015. Saya tidak tahu apakah mereka jadi menghubungi Kiss FM atau tidak, sebab mereka tak lagi membahasnya.

Malam harinya saya dan Bebeh membicarakan hal-hal teknis yang sekiranya bisa kami bantu.

Catatan:

Setelah perjumpaan pada 2 Januari 2015, Farid Solana dan Gamar Tan bilang jika esoknya mereka hendak berangkat ke Ende sekitar satu minggu lamanya. Di Ende, mereka hendak mendirikan sebuah perpustakaan, berharap bisa mengembangkan budaya literasi masyarakat.

Perjumpaan selanjutnya terjadi pada 10 Januari 2015.

4. Hari-hari yang terlewati: SOGA Institute menguras pikiran

Pada 5 Januari 2015 agak sore, saya dan Wisnu ngopi di Macapat Cafe. Esoknya, ia telah menyiapkan reng-rengan tertulis yang diberi judul; Rencana dan Anggaran Kegiatan. Saya serta Bebeh pun juga telah menyiapkan nama-nama teman yang akan kami libatkan dalam kepanitiaan. Posisi kami hanya membantu kinerja teknis. Untuk hal-hal yang sifatnya lebih ke konsep dan sebagainya, akan ditangani langsung oleh panitia dari SOGA Institute. Kami sendiri belum tahu siapa saja mereka, sebab SOGA Institute yang kami kenal hanya Farid Solana dan Gamar Tan. Barangkali kepanitiaan SOGA akan didatangkan langsung dari Jakarta.

Keesokan harinya lagi, 7 Januari 2015, kondisi tubuh saya sedang ngedrop. Beberapa hari terakhir ini saya dan Wisnu memang sedang sama-sama saling berpikir untuk mengolah bidang teknis dalam membantu acara SOGA Institute.

Masih di hari yang sama. Teman-teman berkumpul di rumah. Ada Wisnu, Dedi Supmerah, Mungki, Nanda, Donny Dellyar, dan Faisal. Selain ngobrol ngalor ngidul, kami juga membicarakan rencana acara SOGA Institute, memikirkan hal apa yang sekiranya bisa dibantu.

Antara tanggal 8-10 Januari 2015, Rosidi dan Dodon menginap di rumah. Mereka lelah pikir dan lelah tenaga dalam menghadapi konflik kepentingan di Perkebunan Sentool, saat terjadi rangkaian longsor. Bencana dimulai pada 29 Desember 2014 dan berlanjut secara bertahap hingga beberapa kawan SAR OPA Jember istirahat di rumah saya.

Pada 8 Januari 2015 saya sempat mengirimkan pesan ke Bebeh. Ini isi sms yang saya kirimkan.

"Sam, mengko mari Isya nang omah yo, ngobrol masalah teknis." Terkirim pukul 14.04.

Meringkas hari-hari yang berlalu:
Sore hari --8 Januari 2015, dua kawan dari Kalisat --Ivan dan Oldies-- menemani saya jalan-jalan ke arah GKJW Sumberpakem Kecamatan Sumberjambe. Berharap dengan jalan-jalan kondisi tubuh saya membaik. Namun sama saja. Hingga pulang ke rumah, kondisi badan saya tetap lemas. Malam harinya rumah saya ramai. Alhamdulillah. Di rumah telah ada Cak Dai, Mungki, Kernet, Korep, Wisnu, juga teman-teman SAR OPA yang datang sebentar lalu balik lagi. Kami berbincang hingga dini hari, dengan personel yang silih berganti.

Jumat malam, 9 Januari 2015.

Akhirnya saya melambaikan tangan pada kamera alias KO. Malam itu juga saya pijat ke Mak Mi, tukang pijat langganan keluarga. Di rumah ada anak-anak SAR OPA. Ada Dodon, Rosidi, Windi, Faisal, dan anak-anak SISPERPENA. Saya dan Wisnu ngobrol di ruang depan, berdua saja. Kami membicarakan hal-hal teknis untuk membantu SOGA Institute. Tadinya Wisnu menyarankan agar saya istirahat saja sebab habis pijat, tapi saya lebih senang mengajaknya membicarakan rencana acara.

Sabtu sore, 10 Januari 2015.

Ada Farid Solana beserta istri berkunjung ke rumah. Mereka membawa dua bungkus gorengan. Saya menghubungi teman-teman yang lain lewat sms. Langit dihiasi oleh mendung yang pekat. Menurut Gamar Tan, SOGA Institute punya agenda pertemuan dengan Bupati Jember beserta jajarannya pada 14 Januari 2015 pukul sebelas siang. Saya dan Wisnu diminta menemani Farid dan Gamar dalam pertemuan dengan MUSPIDA, Musyawarah Pimpinan Daerah.

*Kelak, pertemuan itu tak pernah ada, dan mereka tak pernah membahasnya lagi.

Senin, 12 Januari 2015.

Sore hari menjelang maghrib, Cak Oyong sekeluarga singgah di rumah. Ia membawakan sekotak susu dan sebungkus roti untuk saya, serta segenggam doa semoga kondisi tubuh saya lekas membaik.

Oyong menyarankan saya untuk istirahat, saya mengangguk lemah. Saran yang sama juga dikatakan oleh Hana. Ia sms saya dari Jakarta, "Istirahat yang cukup ya Mas, jangan mikir yang berat-berat dulu."

Kira-kira dua menit setelah Oyong sekeluarga pulang, ada telepon masuk. Dari teman-teman SAR OPA di desa Suci, Panti. Mereka berharap saat itu juga saya meluncur ke sana. Urun rembug, begitu katanya. Badan lemas sekali, tapi saya memaksakan diri menuju ke rumah Kepala Desa Suci Kec. Panti. Saya pulang pukul sepuluh malam. Kehujanan. Badan semakin ngedrop.

Ide-ide hebat dari mereka.

Suatu hari Farid Solana dan Gamar Tan datang berkunjung ke rumah saya, sore hari. Saat itu mereka membawa gorengan yang banyak sekali. Lalu Jember diguyur hujan deras. Kami ndepis di ruang tamu yang suasananya mirip sebuah gang. Bocor di sana sini. Saya meminta maaf kepada mereka atas kondisi ini. Mereka bilang, tidak masalah. Sayang saya lupa, tanggal berapakah itu. Mungkin Jumat sore, 9 Januari 2015.

Hari itu, ketika Jember hujan lebat, Gamar Tan berkata jika mereka juga akan mendatangkan Jusuf Kalla untuk membuka acara. Ini baru saya dengar. Wisnu juga baru mendengarnya.

Dalam beberapa kali pertemuan mereka memang seringkali membawa kejutan. Hari ini bicara tentang rencana kedatangan Jusuf Kalla untuk membuka acara, esok harinya bicara tentang kemungkinan mengundang Jember Marching Band, di waktu yang lain mengusulkan ide untuk membuat pameran foto bertema sosial ekonomi yang akan digelar pada waktu pelaksanakan Talk Show. Barangkali mereka memang memiliki ide yang banyak, jadi terlihat sekali jika ide-ide tersebut tidak terstruktur.

Contoh lain:

Ketika Farid Solana dan Gamar Tan singgah di rumah (entah yang tanggal berapa saya lupa, mungkin saat mereka membawa dua kresek gorengan), mereka bilang jika telah dikirim tiga mobil dari SOGA Institute Jakarta. Dikirim juga laptop, kamera, serta beberapa lainnya. Yang mengantarkan adalah tiga orang rekan mereka dari SOGA Institute. Sementara, mobil masih dititipkan ke tempat orang lain, salah satunya parkir di belakang Polsek Patrang. Direncanakan, dalam waktu dekat, mobil-mobil itu segera dititipkan ke tiga tempat. Di rumah Wisnu, di rumah Bebeh, dan yang mobil BMW akan dititipkan di rumah saya.

Dua hari kemudian keluarga saya membersihkan area depan rumah yang penuh kayu, agar bisa menjadi ruang parkir mobil yang dimaksud. Kasihan Farid dan Gamar sebab mereka kebingungan untuk memarkir mobil-mobil itu.

*Kelak, mobil-mobil itu tidak pernah parkir di tempat yang telah kami persiapkan. Farid dan Gamar juga tidak pernah sekalipun menyinggung lagi masalah ini.

Masih di hari yang sama, hari dimana mereka bicara tentang mobil. Saya bilang ke Gamar, "Kakak iparku juga orang Lombok lho." Tak lama kemudian saya memanggil Mas Rahman, lalu saya kenalkan pada Gamar. Mas Rahman menyapa Gamar dengan Bahasa Sasak. Gamar menjawabnya lalu berkata jika sebenarnya ia tidak tinggal di Lombok melainkan di Sumbawa.

Hari itu saya berkata pada Mas Rahman tentang rencana mobil yang akan diparkir di depan rumah, serta meminta bantuannya untuk mengemudikan mobil itu saat para Menteri tiba di Jember. Mas Rahman menyanggupi, ia bersedia membantu.

*Kelak, saya meminta maaf pada Kakak ipar saya.

Pada 19 Januari 2015 saya menuju Jogja, pulang pada 21 Januari 2015.

Perkara agenda saya --dan istri-- untuk keluar kota, teman-teman telah mengerti. Juga Farid Solana dan Gamar Tan, sebab saya memberitahu mereka sejak hari pertama perkenalan. Semisal saya mengerti acara diundur pada 26 Februari 2015, tentu saya akan memilih membeli tiket ke Bandung dibanding menyusul istri di Jogja. Sebab jauh-jauh hari saya telah merencanakan untuk menjemputnya di Bandung Barat lalu menginap di kediaman Kang Fikri beserta istri, Mbak Dey. Mereka menanti kedatangan kami. Lagipula, harga tiket hanya berjarak 30 ribu rupiah, lebih mahal sedikit jika harus ke Bandung Barat.

Namun saya dan istri juga mencintai Jogja. Kami ambil hikmahnya saja. Dengan dimundurkannya acara SOGA Institute di Jember menjadi 26 Februari 2015, kami bisa menikmati hari dengan berjalan-jalan di Malioboro.

5. Konsep acara Project Talk Show Ekonomi Outlook 2015 oleh SOGA Institute

Project Talk Show Ekonomi Outlook 2015 direncanakan akan digelar di Gedung Soetardjo Jember pada 26 Februari 2015. Terbuka untuk umum, disediakan 600 kursi (mulanya hanya 500) bagi warga/komunitas yang tertarik dengan acara ini. Gratis. Disediakan konsumsi ringan dan berat oleh pihak panitia/SOGA Institute. Disiarkan secara langsung oleh Trans TV serta diliput oleh jurnalis dari berbagai media.

Acara dimulai pukul 8 pagi hingga pukul 3 sore. Ada dua sesi undangan. Sesi pertama pagi hingga sore, lebih banyak bicara tentang pandangan ekonomi dalam menghadapi 2015. Peserta boleh ikut dua sesi. Karena acara panjang, akan ada beberapa performance. Akan ada semacam pameran fotografi, tema tidak jauh-jauh dari dunia sosial ekonomi. Saya sudah menghubungi Ketua JPG, Jhon R. Tambunan pada 11 Januari 2015 dan dia bersedia membantu sepenuhnya.

Perform pertama sedianya akan dibuka oleh Jember Marching Band, untuk menyambut Jusuf Kalla. Ia datang hanya sebagai pembuka acara. Setidaknya itu yang kemarin --10 Januari 2015-- saya dengar dari mereka berdua, Farid Solana dan Gamar Tan. Lalu acara dimulai. Para pembicara adalah tokoh-tokoh nasional. Hingga tanggal 11 Januari 2015, nama-nama yang saya dengar --dari pihak SOGA-- kepastiannya adalah Chairul Tanjung serta Sujiwo Tejo. Nama-nama lain hanya disebutkan namun mereka tidak bilang kepastiannya.

Perform terakhir barangkali hanya ada Sujiwo Tejo. Dia bicara sekaligus perform. Sesi dua memang lebih banyak bicara seputar budaya.

6. Ide Baru dari Soga Institute

Rabu, 21 Januari 2015

Kami kembali menginjakkan kaki di tanah Jember setelah dua malam menikmati langit Jogja. Dari stasiun kami tak langsung pulang ke rumah, melainkan nongkrong dulu di warung kopi depan Pasar Patrang. Saat di warung kopi, kami berjumpa dengan pasangan Farid Solana dan Gamar Tan. Mereka sedang berjalan kaki seperti biasa. Keduanya masih senang mengenakan celana pendek beberapa senti di bawah lutut.

Rumah orang tua Farid Solana memang tak jauh dari Pasar Patrang.

Sesekali Gamar Tan menggoda kami. "Cieee, Mas Hakim sudah ketemuan sama yang dirindukan." Saya tertawa mendengarnya. Dari pertemuan tak sengaja ini lahirlah sebuah janji. Besok kami akan kembali bertemu dan membicarakan proses menuju rencana acara Talk Show Ekonomi Outlook 2015.

Esoknya, sore hari. Mereka memenuhi janjinya untuk berkunjung ke rumah saya. Seperti biasa, mereka berdua mengenakan busana santai dan tetap memilih berjalan kaki dari belakang Pasar Patrang, jaraknya sekitar satu kilometer saja. Wisnu mengerti rencana pertemuan ini. Sayang ia tidak bisa bergabung sebab ada keperluan lain.

Ide Mendadak: Membuat Diskusi untuk menguatkan acara inti

Perbincangan kecil ini melahirkan ide baru yang datang dari Farid Solana dan Gamar Tan, atas nama SOGA Institute tentunya. Mereka ingin ada acara lain sebelum Project Talk Show, yaitu sebuah diskusi. Menurut mereka, akan baik jika sebelum acara inti, ada acara pembuka (diskusi) yang dilaksanakan sebelumnya, dengan mengumpulkan berbagai komunitas di Jember.

Menurut Farid, dari adanya diskusi yang direncanakan tersebut akan memudahkan mereka untuk menjaring aspirasi komunitas-komunitas di Jember yang turut serta, tentang bagaimana pandangan mereka pada Project Talk Show yang akan digelar hari Kamis, 26 Februari 2015 di Gedung Soetardjo. Untuk keperluan tersebut, Farid ingin agar saya membantu mengundangkan aneka komunitas, dengan peserta yang dibidik kurang lebih 50 orang.

Karena Wisnu selaku koordinator (yang menjadi jembatan antara saya dan teman-teman, dengan pihak SOGA Institute) tidak hadir, saya bertanya pada Farid dan Gamar, "Apa yang bisa saya bantu?"

Mereka butuh saran tempat, saran komunitas, saran pembicara, saran konsumsi, dan beberapa hal lagi. Khusus untuk pembicara, mereka ingin menghadirkan empat orang, masing-masing akan bicara dari sisi Ekonomi, Budaya, Lingkungan, serta Pertanian. Temanya seputar Jember kini dan nanti, dilihat dari empat sisi tersebut.

Tentang Ide Kupon Untuk Konsumsi

Ada ide dari istri saya tentang konsumsi. Karena pihak SOGA bersikukuh ingin ada konsumsi yang layak, Hana bilang, "Bagaimana jika memakai kupon saja? Dulu kawan-kawan Tikungan Jember pernah membuat sebuah acara di Kedai Gubug, para pesertanya masing-masing diberi satu kupon. Nantinya kupon itu bisa ditukar dengan menu yang ada di Kedai, sesuai dengan keinginan mereka dan sesuai dengan kesepakatan harga pada selembar kupon itu. Misalnya, harga per-kupon adalah lima ribu rupiah. Mereka bisa menukar kupon itu dengan menu yang seharga. Jika harganya delapan ribu rupiah, kekurangan yang tiga ribu rupiah harus ditambahkan secara mandiri."

Gamar Tan menyetujui ide tersebut. Farid dan Gamar pasangan yang baik, selalu menyetujui ide-ide dari kami.

Menjelang maghrib, perbincangan sempat terputus. Mereka berdua pamit hendak pulang terlebih dahulu. Setelah Isya, Farid kembali datang tapi sendirian. Katanya, "Bojoku loro datang bulan, dadi ora iso melu."

Saya bilang pada Farid, sebelum dia ke sini, ada Wisnu datang. Tapi dia tidak bisa lama-lama sebab ada janji dengan temannya.

Obrolan kami mengerucut pada teknis diskusi yang idenya baru saya dengar tadi sore.

Kami menyepakati bahwa diskusi yang dimaksud akan digelar pada 31 Januari 2015, direncanakan bertempat di Kedai Gubug. Saya sempat bertanya pada Farid, "Iki acarane santai kan?" Dia mengiyakan.

"Bagaimana dengan pembicaranya, Mas? Apakah sampeyan bisa mengusahakan?" tanya Farid.

Saat itu juga saya mengajukan satu nama untuk bicara di bidang lingkungan. Ahmad Dainuri a.k.a Cak Dai. Selang beberapa menit, saya mengirim pesan pada Cak Dai, ternyata ia sedang ada di Situbondo. Lalu kami bicara via telepon. Intinya, Cak Dai bersedia membantu rencana diskusi, sebagai pembicara di bidang lingkungan.

Tiga pembicara lain yang saya ajukan --tapi tidak saya hubungi hari itu juga-- adalah Mas Ari pengusaha Es Ari di Jember. Saya mengajukan dia sebagai pembicara di bidang ekonomi. Untuk bidang pertanian, saya sebut nama Pak Tris. Yang terakhir adalah bidang budaya, tiba-tiba saya memikirkan Ustad Taufiq dari Pace. Lalu nama itulah yang saya sebutkan.

Perbincangan malam itu usai dengan melahirkan satu janji yaitu akan ada pertemuan lagi.

7. Kaos Keos: Masih berharap semoga ini bukan perjumpaan terakhir

Sabtu, 24 Januari 2014

Sesuai dengan yang disepakati di pertemuan sebelumnya, hari ini kami berkumpul dan membicarakan ide baru yaitu sebentuk diskusi. Ada Farid Solana dan Gamar Tan --SOGA Institute-- selaku pelempar ide, ada Wisnu, serta saya dan istri selaku tuan rumah.

Selain kami, ada juga teman lama saya, Chris sekeluarga. Ia baru saja berduka, delapan hari yang lalu Ayahnya meninggal dunia. Yang paling kehilangan adalah putra bungsu Chris, saya biasa memanggilnya Mas Nu.

Sementara itu di kamar depan juga ada Mungki dan Ananda.

"Bagaimana Mas? Apakah sampeyan sudah nembung pemilik Kedai Gubug?" Farid bertanya. Saya mengangguk. Saya memang sudah membicarakan ini bersama Dedi, pemilik Kedai Gubug. Ia sama sekali tidak keberatan jika saya meminjam tempat untuk menggelar diskusi.

Gamar Tan menyodorkan contoh kupon kepada kami. Sudah ada stempel SOGA Institute di sana, serta tulisan harga, Rp. 10.000,-

Farid membawa satu lembar kertas HVS tentang rancangan acara, mulai dari nama event, tujuan, tema, pembicara, hingga anggaran. Di sana tertulis nama event adalah Rembug Komunitas Jember. Sedangkan untuk tujuannya, tertulis; Menjaring aspirasi warga Jember untuk SOGA Institute Open Forum Series.

"Berarti ini diskusi formal ya?"

"Iya Mas, formal tapi santai," jawab Gamar Tan. Dia melanjutkan, "Kami juga ingin membuatkan kaos untuk panitia, agar mudah membedakan mana yang panitia dan mana yang peserta diskusi."

Saya sedikit terkejut. Sejak mengenal Farid Solana dan Gamar Tan pada 27 hari yang lalu, dengan beberapa kali perjumpaan saja, mereka memang sering melontarkan gagasan kejutan yang acak.

"Bagaimana jika tanpa kaos?"

"Ya jangan lah Mas. Dananya sudah ada kok untuk kaos."

"Akan baik jika dana itu dimasukkan ke bidang lain yang lebih bermanfaat."

Gamar tetap ingin ada kaos untuk panitia. Setidaknya nanti bisa dijadikan kenang-kenangan jika mereka pernah berproses di sebuah kepanitiaan diskusi. Waktu itu saya mencarikan opsi yang lain. Jika SOGA Institute ingin membuat dokumentasi, bisa dilakukan di sisi yang lain. Misal, mereka bisa mengambil sisi backdrop atau yang lain.

"Bukan masalah itu Mas. Kami hanya ingin membuatkan panitia kaos, itu saja. Bagaimana jika kaos itu hanya di-sablon tulisan 'panitia' saja?"

Mereka memiliki tujuan yang baik, tapi saya berpikir berbeda. Ada dua hal yang saya pikirkan. Pertama, apakah panitia diskusi benar-benar butuh menggunakan kaos bertuliskan panitia? Tentu saya memiliki pandangan yang berbeda, sebab setiap kali mengadakan diskusi bersama teman-teman, kami tidak pernah melakukan itu. Biasanya kita diskusi ya diskusi saja, lebih mengutamakan kacang dibanding kulitnya. Akan lebih bermanfaat jika dana untuk pembuatan kaos tersebut dialihkan ke bidang yang lain. Hal kedua yang menjadi kekhawatiran saya namun terlampau sulit untuk menjelaskannya, bagaimana jika dari urusan kaos saja justru berpotensi menimbulkan fitnah di pandangan orang lain? Namanya juga fitnah, ia mudah sekali diciptakan. Jika itu terjadi, saya tidak sampai hati pada mereka berdua yang memiliki niat baik.

Saya menyesal melontarkan renungan kilat di atas. Ketika saya menyampaikannya, mereka menanggapinya dengan intonasi yang tak seperti biasanya.

"Nek sediluk-sediluk dianggep fitnah, sediluk-sediluk dianggep fitnah, kapan majune. Nek ngene carane, tak cancel ae wes acarane kabeh! Rencana diskusi iki karo acara sing tanggal 26 Februari!"

Kiranya saya kurang pandai memilih kata-kata dan tak cerdas menyampaikannya, hingga Farid Solana menyambar dengan jawaban bernada tinggi. Istrinya mencoba mencegah Farid dengan mengatakan, "Ya jangan gitu lah Mas... Jangan main cancel saja. Kasihan teman-teman, sudah menghubungi narasumber, nyiapin tempat, kok mau di cancel."

Saya diam sejenak. Begitu pula istri saya. Wisnu yang duduk di sebelah kanan saya juga terlihat diam. Apalagi teman lama saya, Chris beserta suami dan si kecil Mas Nu. Bagaimanapun juga saya adalah tuan rumah. Dan energi negatif ini datang dari pernyataan yang saya lontarkan. Jadi, saya mencoba untuk kembali bicara setenang mungkin, berharap bisa mengembalikan keadaan seperti semula. Ini memang berat buat saya; dibentak orang lain di dalam rumah saya sendiri, tepat di depan teman lama saya --sekeluarga-- yang sengaja datang ke rumah hanya untuk silaturahmi.

Di waktu jeda tersebut, Mungki dan Ananda keluar dari kamar depan lalu berpamitan. Mereka hendak keluar entah kemana.

Syukurlah, di menit-menit selanjutnya kondisi semakin membaik. Topik pembicaraan tak lagi fokus pada pra acara. Mereka lebih aktif membicarakan hal yang lain. Misalnya, Wisnu mencairkan suasana dengan menanyakan nama lengkap Gamar.

"Mbak Gamar nama lengkapnya siapa?"

"Nama saya Gamar Tan, Mas. Tan itu nama marga dari orang tua saya. Saya ini asli Makassar."

Sebelum mereka pamit undur diri, kami masih menyisakan satu janji. Esok harinya kami berencana berkumpul di rumah Bebeh pukul sebelas siang.

"Bisa kan Mas?" Gamar Tan bertanya pada kami. Wisnu bilang, "Insha Allah bisa." Saya tersenyum sambil bergumam, semoga bisa bangun pagi.

"Ya harus bisa Mas, ini penting. Kalau Mas Wisnu nggak bisa nanti aku seret." Kami tertawa mendengar ucapan Gamar.

Esoknya, mereka tidak muncul. Tak ada kabar apapun dari Farid Solana dan Gamar. Saya kira ini ada hubungannya dengan perbedaan sudut pandang di rencana pembuatan kaos untuk panitia diskusi, sebuah ide mendadak yang tak pernah mereka bicarakan sebelumnya. Saya hanya berharap, semoga perbincangan di malam itu bukan perjumpaan terakhir. Tak baik memutus tali silaturahmi.

SOGA Institute bekerjasama dengan NUS dan Nanyang:

Malam itu juga, 24 Januari 2015, Gamar Tan sempat sedikit menceritakan tentang apa itu SOGA Institute. Dia bilang, mulanya SOGA bekerjasama dengan Badan Kerjasama Internasional Jepang atau JICA, Japan Internasional Cooperation Agency. Niat SOGA Institute tentu sangat ideal.

Kini mereka tak lagi bekerjasama dengan JICA melainkan bersama dua lembaga, yaitu NUS dan Nan Yang. Setidaknya itu yang saya dengar langsung dari Gamar Tan, mohon maaf semisal saya salah dengar. Barangkali NUS yang dimaksud adalah nama sebuah Universitas di Singapura. Sedangkan Nan Yang (tulisannya Nanyang), ia juga nama sebuah Universitas Teknologi di Singapura.

Jadi, SOGA bekerja dengan dana dari sponsor lembaga asing. Meskipun tak satu kali pun punya pengalaman serupa, saya tidak sedang mengecam. Biasa saja. Dana asing juga mengalir ke lembaga partikelir, perguruan tinggi, pesantren, hingga penyelenggara daerah. Jadi, sekali lagi, soal ini biasa saja buat saya. Namun akan baik jika ada keterbukaan di awal, meski mungkin saya juga akan berpikir dua kali untuk membantu, dan akan menyarankan SOGA Institute untuk menggandeng EO saja.

Sebagai sebuah Institusi, tentu SOGA memiliki visi misi yang baik. Dengan senang hati saya mendoakan semoga SOGA Institute akan terus survive di bidang mencerdaskan kehidupan bangsa, meski saya bukan orang SOGA Institute.
8. Sebab tak ada kabar dari SOGA Institute

Tanggal diskusi yang direncanakan (untuk 31 Januari 2015) semakin dekat, tapi tak ada kabar apapun dari Farid Solana dan Gamar Tan. Saya telah mengabarkan rencana diskusi ini pada 25 Januari 2015, sehari setelah pertemuan -terakhir- dengan mereka. Saya hanya mengabarkan rencana diskusi namun belum tega mengatakan pada teman-teman bahwa tujuan dari diselenggarakannya diskusi ini adalah untuk menjaring aspirasi warga Jember untuk SOGA Institute Open Forum Series.

Pada 27 Januari 2015, kami telah berancang-ancang untuk melanjutkan acara ini secara mandiri semisal tak ada kabar lagi dari pihak SOGA Institute.Empat hari kemudian, kami tetap mewujudkan ide Farid dan Gamar, namun secara mandiri dan atas nama keluarga tamasya.

Esoknya, 28 Januari 2015, Wisnu mengirimkan pesan pada Farid Solana.

SMS Wisnu ke Farid:

Aslkm.. Rid, untuk kelanjutan acara tgl 31 piye.. iki arek2 wes siap kabeh.. Pembicara yo wes oke.. Kari ngenteni soga..

Piye Rid.. Tak tunggu kabare sampe jam 11 yo. lek gak onok konfirm berarti acara dianggap di cancel. Kesuwun.. >>> Iku mau sms ku nang Farid.. Tak enteni gak onok balesan, ditilpun ga diangkat..

Malam harinya Bebeh ke rumah. Saya, Hana, dan Bebeh berembug masalah bagaimana sebaiknya diskusi tanggal 31 Januari 2015. Usulan dari Bebeh, nama diskusi untuk 31 Januari 2015 adalah 3eNG: Ngobrol Ngalor Ngidul. Kami sependapat. Lalu diskusi tanggal 31 Januari 2015 dilaksanakan gotong royong oleh Keluarga Tamasya, lepas dari SOGA Institute. Meski demikian, kelak saat diskusi digelar --di Kedai Gubug, kami menyebutkan di pembuka diskusi bahwa keluarga tamasya hanya sedang menuntaskan ide dari SOGA Institute.

Malam itu juga kami menyiapkan beberapa hal. Wisnu dan beberapa teman kami hubungi lewat pesan pendek. Diskusi 3eNG: Ngobrol Ngalor Ngidul telah siap digelar oleh keluarga tamasya.

9. Saya merasa ditikam dari belakang

Kamis, 29 Januari 2015

Semalam Bebeh bilang sama saya jika siang hari ini dia akan menemui Wisnu di kantornya, di areal kampus Bumi Tegalboto. Baru sore harinya saya dengar kabar dari Wisnu jika siang itu juga tiba-tiba Farid Solana juga mengajak untuk bertemu. Akhirnya mereka berjumpa bersama-sama. Wisnu, Bebeh, Farid Solana, serta Gamar Tan. Malam harinya Bebeh juga mengabarkan pertemuan mereka kepada saya dan Hana.

Saya agak terkejut saat mendengar kabar dari Wisnu jika pihak SOGA Institute akan tetap melanjutkan acara di tanggal 31 Januari 2015 yang sudah terlanjur kami namai 3eNG: Ngobrol Ngalor Ngidul. Pihak SOGA akan segera transfer sejumlah uang di rekening Wisnu untuk biaya acara. Mereka juga akan hadir di acara tersebut.

*Kelak waktu membuktikan, tak pernah ada satu kali pun uang kiriman dari SOGA, dan kami tetap melanjutkan diskusi -pada 31 Januari 2015- atas nama keluarga tamasya, dengan konsep gotong royong.

Farid tidak menyukai cara kerja saya. Ia mengira saya adalah seorang event organizer atau LSM. Dia tidak menyukai apa yang saya katakan -tentang kaos- saat pertemuan di rumah saya pada Sabtu malam, 24 Januari 2015. Dia juga menyayangkan saat pertemuan malam itu, di rumah saya sedang ada tamu lain, Chris sekeluarga.

"Nek awakmu nggak cocok karo cara kerja Hakim dan istrinya, koen nggak iso ngajak aku Rid. Soale aku iki wes biasa membuat acara bersama mereka," kata Bebeh.

Benar kata Nanda, teman yang baik adalah ia yang menikam dari depan, bukan dari belakang.

Mengapa ia tidak mengatakan itu semua di depan saya? Jika dikatakan secara langsung, tentu hasilnya akan baik. Meski demikian, pintu rumah kami selalu terbuka untuk mereka.

10. Diskusi 3eNG: Ngobrol Ngalor Ngidul

Sabtu, 31 Januari 2015

Sejak pukul dua siang hujan turun sangat deras, sesekali disertai petir. Lampu mati. Kedai Gubug banjir hingga setengah lutut. Kami tak jadi menggelar diskusi secara lesehan. Ada beberapa teman yang mengirimkan pesan, baik lewat telepon genggam maupun lewat jejaring sosial di dunia maya. Mereka banyak yang terjebak hujan. Bahkan kami pun terjebak hujan. Cak Dai, salah satu teman bicara dalam diskusi 3eNG, ia masih mampir di rumah saya sebab basah kuyup dan butuh berganti pakaian.

Tadinya, acara 3eng: Ngobrol Ngalor Ngidul ini dirancang akan digelar pada pukul 15.00-14.30 WIB. Namun molor juga. Diskusi baru bisa dimulai pukul empat kurang lima menit.

Mas Ari dan Cak Dai telah hadir di Kedai Gubug. Ivan Adhitya Abdillah kami minta untuk menjadi pembawa acara, sedangkan saya mencoba menjadi moderator.

Acara memang baru dimulai pukul 15.55, namun ketika menjelang maghrib, saat Ivan Adhitya Abdillah hendak menutup acara 3eNG: Ngobrol Ngalor Ngidul, teman-teman mengusulkan untuk break saja. Setelah maghrib acara dilanjutkan kembali. Kami justru senang mendengar ini.

Jika dihitung secara keseluruhan, kami terdiri dari 30 orang saja. Namun melihat cuaca yang seperti itu, tentu saya pribadi sangat bahagia. Teman-teman masih bersedia menemani diskusi. Sedangkan yang tidak bisa hadir, mereka mendoakan kami dari tempat yang berbeda. Hingga diskusi usai, tak ada pihak dari SOGA Institute yang datang di Kedai Gubug seperti yang mereka janjikan pada Bebeh dan Wisnu.

Pesan moral yang saya dapatkan dari diskusi 3eNG, kejujuran adalah foundation dari segalanya.

Wisnu mengirimkan pesan terima kasih pada Farid:

Aslkm.. Rid, aku, bebeh, hakim dkk.. Njaluk sepuro, ide acarae awakmu tetap kami lanjutkan, dn tetap kami sampaikan bahwa ini ide dari soga.. Acara dimulai td jam 4.. Dan akan diakhiri nanti jam 7, pembicara 2 orang.. Dan peserta yang hadir sekitar 30 org.. Karena hujan deras dan banjir di sini.. Teman2 titip salam, terimakasih atas ide dan energi positifnya.. Sukses buat kamu, mbk gamar dan soga..

Teman-teman, atas nama keluarga tamasya saya mengucapkan terima kasih.

Jika sesuai dengan apa yang mereka ucapkan, seharusnya Talk Show Ekonomi Outlook 2015 sudah bergema di Radio Prosalina pada 3 Februari 2015, serta di media-media yang lain. Kebetulan pada 3 Februari 2015 saya menghadiri silaturahmi Keluarga Sroedji dan Pemkab Jember. Saat itu saya mendengar secara langsung dari Bupati Jember bahwa selama bulan Februari tidak ada rencana acara besar di Jember.

Kini sudah tanggal 5 Februari 2015, tak ada kabar dari SOGA Institute. Perjumpaan dengan pasangan Farid Solana-Gamar Tan pada Sabtu malam, 24 Januari 2015, adalah perjumpaan terakhir antara saya dengan mereka.

11. Permohonan Maaf

Teman-teman yang baik, khususnya keluarga tamasya yang berencana membantu pelaksanaan Project Talk Show Ekonomi Outlook 2015, terima kasih atas kesediaannya untuk meluangkan waktu mendengarkan saya di hari-hari kemarin, saat saya menyampaikan rencana SOGA Institute. Mohon maaf sebesar-besarnya sebab saya sendiri tidak tahu bagaimana kelanjutan acara tersebut. Komunikasi saya dengan Farid Solana dan Gamar Tan hanya sampai pada 24 Januari 2015.

Bersamaan dengan kronologi yang saya tulis ini, saya sampaikan pula ucapan maaf dan terima kasih kepada Farid Solana dan Gamar Tan. Mohon maaf jika menurut Anda saya bukan rekan yang baik. Namun tentu saya berterima kasih atas peristiwa yang tidak saya sadari ternyata sangat menguras waktu, tenaga, dan pikiran ini. Pertemanan kita adalah sebuah pelajaran yang baik. Semoga masing-masing dari kita bisa mengambil hikmah dari semua ini.

Sekali lagi terima kasih.

Salam saya, RZ Hakim.

Senin, 02 Februari 2015

Menghadiri Silaturahmi Keluarga Sroedji dan Pemkab Jember

Senin, 02 Februari 2015
Tadi siang saya datang di ruang rapat lantai dua Kantor PEMKAB Jember sebagai pemerhati sejarah, atas undangan Keluarga Letkol Moch. Sroedji. Mereka sedang silaturahmi dengan pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Jember, sekaligus membicarakan tentang upaya pengajuan permohonan kepada Presiden perihal menjadikan Letkol Moch. Sroedji sebagai pahlawan nasional.

Ibu Pudji Redjeki Irawati selaku putri bungsu Moch. Sroedji hadir bersama putrinya, Irma Devita Purnamasari. Hadir juga bersama mereka adalah Letkol (Purn.) Dr. H. Fauzi Bahar M.Si selaku mantan walikota Padang, provinsi Sumatera Barat, untuk dua kali masa jabatan. Ia sengaja turut serta --dari Jakarta-- ke Jember untuk berbagi pengalamannya selama menjabat sebagai walikota Padang dan berhasil memperjuangkan M. Natsir sebagai pahlawan nasional. Turut hadir menemani keluarga Sroedji adalah Rektor Universitas Moch. Sroedji Jember beserta kolega, Drs. H. Supardi.

Saya datang sedikit terlambat, ketika pihak dari keluarga Sroedji telah memulai pemaparannya.

Di ruang tersebut telah duduk Ir. H. MZA Djalal, MSi selaku Bupati Jember. Berturut-turut dari samping kiri Bupati adalah Sugiarto Sekretaris Daerah Kabupaten Jember, Sekkab Jember Sigit Akbari, Kepala Bakesbang Jember Widi Prasetyo, Kepala Dinas Sosial Pemkab Jember Eko Heru Sunarso, Kepala Bagian Humas Pemkab Jember Zainal Arifin, Bambang CW (prakiraan saya ia adalah Staf Bagian Umum Pemkab Jember), Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Pemkab Jember Imam Bukhari, serta seorang lagi yang bertugas mendokumentasikan pertemuan ini. Rekan-rekannya biasa memanggilnya 'Geng.'

Rupanya sistem pemaparannya disepakati berurutan, dimulai dari pihak keluarga Sroedji, baru kemudian Jajaran Pemkab Jember. Oleh pihak keluarga Sroedji dan Pemerintah Kabupaten Jember, saya diberi kesempatan untuk berbicara. Pendek saja yang saya paparkan, barangkali berdurasi satu atau dua menit.

Ini yang saya katakan.

"Terima kasih Bapak Bupati, juga semua penyelenggara daerah yang ada di ruangan ini. Perkenalkan nama saya Hakim, saya tinggal di Patrang dekat Taman Makam Pahlawan. Selama ini posisi saya adalah menemani pihak keluarga --Sroedji-- untuk turut mengumpulkan data-data di bidang sejarah, semampu yang saya bisa. Pernah saya ceritakan pada keluarga Sroedji, khususnya Mbak Irma, jika penyelenggara daerah Kabupaten Jember di periode ini telah berusaha menyusun buku tentang Sejarah Jember. Beberapa anggota tim peneliti dan penyusun buku adalah sejarawan yang saya kenal, diantaranya adalah guru-guru saya sendiri. Saya kira akan baik jika usaha ini dituntaskan dengan kembali melakukan riset terhadap perjuangan di masa Letkol. Moch. Sroedji. Itu saja dari saya, terima kasih."

Kemudian perbincangan berlanjut dan mengarah pada satu kesimpulan, pihak Pemkab Jember bersedia serta mendukung sepenuhnya upaya pengajuan untuk menjadikan Letkol Moch. Sroedji sebagai pahlawan nasional.

"Ya! Kita bikin saja rangkaian acara di bulan ini," ujar Bupati Jember, MZA Djalal. Ia terlihat antusias, terlebih ketika mengetahui jika kemarin, 1 Februari 2015 adalah hari lahir Moch. Sroedji yang ke-100 tahun. Peristiwa gugurnya Moch. Sroedji juga ada di bulan ini, 8 Februari.

"Mumpung Februari ini di Jember tidak ada acara besar," tambahnya.

Direncanakan dalam bulan ini pihak Pemkab Jember akan mengadakan tiga acara sekaligus. Dimulai dengan acara Napak Tilas pada 8 Februari 2015 untuk mengenang pertempuran serta gugurnya Letkol Moch. Sroedji. Napak tilas ini akan dimulai dari lokasi pertempuran, Karangkedawung, kemudian ditutup dengan tabur bunga di makam Letkol. Moch. Sroedji di Komplek Pemakaman Umum Kreongan. Acara kedua setelah napak tilas adalah lomba karya tulis. Bapak Zainal Arifin selaku Bagian Humas Pemkab Jember akan menjadi koordinator bidang ini. Lalu, di penghujung bulan Februari 2015 direncanakan akan diselenggarakan Seminar Nasional.

"Barusan saya sudah telepon Komandan Brigif Jember, ia mendukung acara napak tilas. Insya Allah enam hari lagi akan kita laksanakan bersama-sama," kata Bupati.

Perbincangan selanjutnya bernuansa santai. Kami lebih banyak mendiskusikan hal-hal yang sifatnya teknis.

Saya tentu dengan senang hati membantu di bidang yang saya pelajari. Bersama bagian Humas Pemkab Jember, saya sempat dimintai urun rembug masalah teknis lomba karya tulis serta rencana Seminar Nasional. Kami bicara bertiga; saya, Humas Pemkab Jember Zainal Arifin, serta Irma Devita cucu Moch. Sroedji.

Sesudah acara selesai, keluarga Sroedji beserta pihak Universitas Moch. Sroedji Jember, Bapak Fauzi Bahar, serta saya dan istri, kami makan di Rumah Makan Bu Lanny. Lokasinya di Patrang, tepat di seberang rumah saya.

Minggu, 01 Februari 2015

Tafsir Maju dan Penyakit Memelihara Anggapan

Minggu, 01 Februari 2015
Oleh RZ Hakim

Sebagai moderator acara 3eNG: Ngobrol Ngalor Ngidul, pertanyaan pertama yang saya lontarkan untuk Ahmad Dainuri adalah tentang arti dari sebuah kata, yaitu maju atau kemajuan. "Maju itu apa?"

Saya lupa, bukankah tugas moderator hanyalah memoderasi dan mengawasi jalannya diskusi? Bukan bertanya. Tapi menurut Ivan Adhitya Abdillah sebagai pembawa acara yang duduk di samping saya, dia bilang tidak apa-apa. Saya lihat, Ahmad Dainuri yang biasa saya panggil Cak Dai, ia hanya butuh tersenyum sejenak lalu menjawab pertanyaan 'maju itu apa' dengan lugas.


Cak Dai selaku teman bicara di bidang lingkungan

"Jika menurut teman-teman yang ada di sini, bagaimana? Maju itu apa? Apakah maju itu harus ditandai dengan lampu-lampu? Fasilitas gedung-gedung bertingkat? Berhasil mengundang banyak investor hingga wilayahnya terlihat gemerlap? Apakah maju itu identik dengan kata modern? Nah, bagaimana?"

Cak Dai tidak segera melanjutkan ucapannya. Ia memberi jeda sejenak. Ketika tidak ada sanggahan dan argumentasi dari teman-teman di Kedai Gubug --lokasi diskusi 3eNG: Ngobrol Ngalor Ngidul, ia melanjutkan pemikirannya.

"Jika dilihat secara energi, maka arti maju adalah melangkah ke depan. Tapi benarkah melangkah ke depan itu artinya maju seperti yang diinginkan kita bersama?"

Sambil membatin. Saat itu saya juga sedang memikirkan kata maju. Menurut pandangan sejarah, maju 'yang baik' adalah ketika telah mengerti posisi kita di hari ini, dan pahamposisi kemarin, tentang dari mana kita berasal. Jika telah memahami masa kini dan kemarin, tentu kita akan mengerti hendak dilangkahkan kemana kedua kaki ini.

"Maju yang kita pahami sekarang ini berdampak merusak kelestarian alam. Dari media sendiri arahnya ke sana. Begitu pula jika kita melihat apa yang diberikan oleh dunia pendidikan kita kepada para siswanya mengenai kata maju. Lalu langkah apa yang harus kita pilih? Maju yang katanya modern, atau maju yang seperti Badui?"

Jeda sejenak. Cak Dai menyelempangkan kembali sarung warna hijau yang melilit lehernya.

"Coba sekali-sekali Anda bermain ke Desa. Pendidikan di sana malah menciptakan kaum-kaum urban yang lebih memilih meninggalkan desa. Kenapa? Apakah ini melulu tentang mencari keuntungan di segala bidang --aksesbilitas, arus informasi, relasi, serta materi-- seperti yang diajarkan di pendidikan ekonomi modern? Atau, jangan-jangan kita masih belum menyelesaikan tafsir tentang kata maju itu sendiri. Maju itu apa? Apa benar maju itu harus modern? Ini kita masih mencoba mentafsir-tafsirkan kata maju, belum yang kata modern. Di saya, ilmu manajemen itu pada dasarnya hanya bertujuan untuk menipu. Ya mohon maaf, itu menurut saya. Orang yang pandai di bidang ekonomi manajemen akan berpikir secara ekonomi, mencari keuntungan, kalau bisa modal kecil untung besar. Padahal maju adalah kebebasan yang sebenarnya ada di Pancasila. Makanya, jika kita masih percaya Pancasila adalah inspirasi kebangsaan, ia jangan diintervensi oleh gambar lain."

Ada satu contoh yang Cak Dai ceritakan, tentang seorang Nenek. Ia berjualan rujak di tempat yang sepi. Secara ekonomi modern, jika kita ingin berjualan sesuatu maka yang paling utama harus kita pertimbangkan adalah sisi strategis. Nenek penjual rujak ini berbeda. Ia berjualan di sana hanya karena hatinya terpanggil saat melihat orang-orang yang hendak ke pasar tradisional, atau telah pulang dari pasar tradisional. Bagaimana jika mereka lapar? Itulah kenapa sang Nenek berjualan di sana, dengan harga yang dapat dijangkau oleh para buruh penjual sayuran atau buah-buahan.

"Sekarang mari kita lihat sekeliling, bagaimana? Adakah pelaku bisnis yang berpikir seperti pola pikir Nenek penjual rujak? Jika tidak ada, mengapa?"


Mas Ari penjual es ari, teman bicara di bidang ekonomi

Mas Ari, teman bicara di bidang ekonomi dalam diskusi 3eNG: Ngobrol Ngalor Ngidul, ia kadang sepemahaman dengan Cak Dai, namun seringkali berbeda pandangan. Mas Ari lebih berpikir bahwa ekonomi yang baik adalah ekonomi yang dijalankan secara bersama-sama, serta tentu saja dengan tidak merugikan pihak lain.

"Kita harus seperti sapu lidi yang saling berpelukan dan saling menguatkan," kata Mas Ari.

Ivan Adhitya Abdillah, ia pandai sekali menjadi pembawa acara. Teman-teman antusias dalam menanggapi, menyanggah, dan bertanya beberapa hal pada kedua teman bicara.

*Maaf, saya sering memakai kata teman bicara untuk menggantikan kata pembicara.

Suasana Diskusi:

Di luar gerimis masih menyelimuti kota Jember. Dimulai sedari pukul dua siang, hujan turun deras sekali disertai petir. Lampu mati. Lokasi acara --Kedai Gubug-- banjir hingga setengah lutut. Kami tak jadi menggelar diskusi secara lesehan. Teman-teman banyak yang mengirimkan pesan, baik lewat telepon genggam maupun lewat jejaring sosial di dunia maya. Mereka banyak yang terjebak hujan. Bahkan kami pun terjebak hujan. Cak Dai harus mampir dulu ke rumah saya sebab ia basah kuyup dan butuh berganti pakaian.

Tadinya, acara 3eng: Ngobrol Ngalor Ngidul ini dirancang akan digelar pada pukul 15.00-14.30 WIB. Namun molor juga. Diskusi baru bisa dimulai pukul empat kurang lima menit. Sebelumnya, saya mengirimkan pesan pendek pada Dedi pemilik Kedai Gubug.

"Santai ae, diskusi apa adanya saja. Tidak jadi lesehan, pakai kursi saja. Acara molor karena cuaca tentu tidak apa."

Pesan itu terkirim 30 menit sebelum acara seharusnya telah dimulai. Saya mengirimkannya dari Baratan, saat terjebak hujan deras di rumah Syafi'i penjual keripik dengan modal mandiri.

Iya benar, acara memang baru dimulai pukul 15.55, namun ketika menjelang maghrib, saat Ivan Adhitya Abdillah hendak menutup acara 3eNG: Ngobrol Ngalor Ngidul, teman-teman mengusulkan untuk break saja. Setelah maghrib acara dilanjutkan kembali. Kami justru senang mendengar ini. Di Kedai Gubug tersedia musholla kecil lengkap dengan sarung dan mukenanya. Jadi tidak ada masalah. Kabar baiknya, ketika mendekati waktu maghrib, listrik menyala. 

Jika dihitung secara keseluruhan, kami terdiri dari 30 orang saja. Namun melihat cuaca yang seperti itu, tentu saya pribadi sangat bahagia. Teman-teman masih bersedia menemani diskusi. Sedangkan yang tidak bisa hadir, mereka mendoakan kami dari tempat yang berbeda.

Kembali ke pertanyaan, "Maju itu apa?"

Seusai maghrib, kami melanjutkan acara diskusi. Teman-teman masih antusias mengupas tafsir maju dari sudut pandang Cak Dai serta Mas Ari.
"Bagi saya maju itu mandiri. Maju itu efisien, ekonomis, sehat, tidak menyusahkan. Saya tidak membutuhkan banyak biaya untuk hidup dengan sehat dan efisien."

Kemudian Cak Dai bercerita tentang pengalamannya ketika tinggal di Badui.

"Saya tidak tinggal di Badui dalam. Di Badui dalam saya hanya berkunjung saja, lebih banyak menghabiskan waktu di Badui luar. Namun tentu ada banyak hal yang bisa saya petik dari sana. Saya bahkan tidak mau pulang ke Jember, mendaftarkan diri untuk menjadi bagian dari masyarakat Badui. Sayang, aturan Adat membuat saya tidak bisa menjadi bagian dari mereka.

Cerita berlanjut pada bidang Farmasi.

"Badui punya obat di sepanjang jalan. Setiap halaman adalah apotek bagi mereka. Sedangkan di sini obat-obatan dijual mahal dan harus dijaga oleh lembaga khusus. Orang yang ingin menjual obat itu harus membuat toko dulu yang bangunannya dibuat dari batuan dan semen. Kita bahkan tidak tahu, apakah batuan dan semen itu diambil dengan cara tetap memperhatikan lingkungan, atau malah menciptakan ketidakadilan di bidang lingkungan. Setelah toko tersedia, mereka masih harus mempunyai seorang apoteker. Sedangkan untuk menjadi sarjana apoteker harus menempuh pendidikan dulu agar bisa melakukan pekerjaan di bidang kefarmasian, dan itu mahal. Padahal maju itu tidak menyusahkan dan seharusnya tidak membutuhkan banyak biaya. Maju itu seharusnya efisien secara waktu dan ekonomi."

Suatu hari ketika di Badui, Cak Dai merasakan kepalanya pusing sekali. Oleh salah satu warga Badui, ia diambilkan sejenis rumput, rumput itu ditumbuk, cairannya diteteskan pada kepala Cak Dai yang pusing. Setelah itu pusingnya berangsur-angsur hilang. Tidak ada efek samping pada obat alami tersebut.

"Orang Badui itu ketika bangun kesiangan, ia masih bisa makan. Mereka memiliki banyak sekali harta kekayaan. Ada durian, pisang, umbi-umbian, dan sebagainya. Lihat orang kota. Jika mereka bangun jam sembilan pagi, apalagi bangun jam satu siang, mereka susah untuk cari makan. Harus mbecak dulu baru bisa makan. Itu juga kalau ada penumpang. Jadi lebih maju mana menurut teman-teman?"

Kita memang sering melabeli seseorang atau sebuah kelompok masyarakat dengan label 'pedalaman' atau label-label yang lain. Kita paksa mereka untuk bersekolah, memberi mereka seragam, dan memaksa mereka untuk hidup maju dan modern seperti kita, namun pada kenyataannya kita sedang menjajah tapi sangat tidak mau jika ada yang menyebut kita penjajah.

"Di Badui tidak pernah berdiri Universitas kehutanan, tapi mereka memiliki hutan yang bagus. Di sana tak pernah ada Fakultas Pertanian, tapi mereka bisa menghasilkan padi yang punel, yang bisa mereka simpan sangat lama meskipun hanya mengggunakan teknik penyimpanan tradisional."

Cak Dai melanjutkan penjelasannya. Badui bisa seperti itu sebab mereka konsisten pada ilmu pengetahuan yang mereka dapat secara turun temurun.

"Ilmu pengetahuan mereka mungkin tidak sebanyak orang-orang kota, namun mereka konsisten. Dengan kata lain, mereka hidup atas nama ilmu pengetahuan. Sekarang mari kita bercermin bersama-sama, apakah kita telah konsisten pada ilmu pengetahuan yang telah kita dapatkan sejak bangku sekolah dasar?"

Contoh kasus yang Cak Dai paparkan mengantarkannya untuk sedikit bicara tentang bidang kebersihan.

"Siapa bilang kota lebih bersih dan lebih hiegenis? Rumah-rumah mereka kotor. Kenapa terlihat bersih? Jelas saja terlihat bersih, lha wong sampahnya dibuang ke desa. Apakah ini yang dinamakan maju dan berpendidikan? Ini bukan hanya sampah yang terlihat. Sampah yang tak terlihat juga banyak. Mereka mengirimkan air limbah rumah tangga lewat got-got kecil, mengalir ke sungai, lalu menyebar hingga ke desa-desa."

Kata Cak Dai, sekarang tidak ada lagi lirik lagu yang diciptakan Pak Gesang, yang ada gersang.

"Saya cari-cari, dimana lirik lagu Pak Gesang yang indah itu? Air mengalir sampai jauh, dimana ya mengalirnya. Oh ternyata air kita dijual. Berarti kita sedang berjalan mundur, tidak maju, sebab maju itu tidak menyusahkan. Orang tempo dulu tentu lebih maju, sebab mereka tak perlu membeli air yang mengalir di atas tanah airnya sendiri."

"Logikanya, hari ini kita lebih sehat dari para pendahulu, lebih berpotensi memiliki usia yang panjang, temannya lebih banyak, dan sebagainya. Kenapa? Sebab konon kita lebih berpendidikan. Apakah itu terjadi? Jika tidak terjadi maka kita tidak maju."

Cak Dai curiga jika para pemimpin kita belum satu kesepemahaman tentang kata maju. Ia bilang, banyak desa ingin disebut maju agar dianggap bagus oleh Bupati. Kota ingin dianggap maju oleh Gubernur Propinsi. Mereka juga berlomba-lomba melakukan banyak hal hanya karena ingin dianggap maju oleh Presiden. Di setiap kesempatan, Presiden selalu berkata pada rakyat untuk bersama-sama menuju Indonesia yang maju agar tidak kalah dengan negara-negara lain.

"Kita ini kan mengekor dunia yang sudah maju. Misalnya, Amerika. Ya sama seperti yang dikatakan sampean tadi. Orang bakal dianggap maju jika makan di KFC atau McDonald's. Padahal jika mereka mau jujur, rasa ayam kampung tentu jauh lebih nikmat dibanding suguhan yang mereka tawarkan. Di bidang ini pun telah ada penjajahan rasa. Lagi-lagi kita mengekor. Ekor itu kan buntut, letaknya di belakang. Lalu kapan kita menjadi Ndas? Kita butuh memiliki tafsir sendiri tentang maju. Maju itu apa? Itu yang harus kita lacak dan kita pikirkan bersama."

Selama ini banyak orang yang terjebak memelihara anggapan. Istilah 'memelihara harapan' pernah saya dengar dari orang yang sama --Cak Dai-- di pertemuan sebelumnya.

"Ingin dibilang maju agar mendapat pengakuan dari pihak lain, itu namanya penyakit memelihara anggapan. Orang sibuk melakukan ini dan itu hanya karena sibuk memelihara anggapan. Selain tidak efisien, buat apa kita hidup jika hanya untuk memelihara anggapan? Maka kita hanya akan dapat sibuknya saja. Sibuk memelihara anggapan, agar dianggap sebagai pemimpin yang baik, agar dianggap pintar, agar dianggap peduli, agar dianggap memiliki jiwa sosial yang tinggi, agar dianggap hebat, agar dianggap begini dan begitu. Jika kita masih berkutat di sisi memelihara anggapan, maka kita tidak maju."

Hidup itu harus dirasakan secara energi pikir, dipertimbangkan secara kesehatan, dan dipikirkan secara efisiensi waktu | Ahmad Dainuri


Itulah tafsir maju dan penyakit memelihara anggapan yang dipaparkan oleh Cak Dai. Tentu masih ada hal lain di luar yang telah saya catat ini. Semoga ada hikmah dan bahan perenungan yang bisa saya dan teman-teman petik dari obrolan-obrolan kita kemarin, 31 Januari 2015.


Backdrop oleh Dedi Supmerah, dari bekas kantung semen dan sisa cat sisa

Teman-teman, masih ada banyak hal yang belum saya tuliskan di sini, terutama pemikiran Mas Ari tentang bagaimana sebaiknya memandang dan berkecimpung di dunia ekonomi. Semoga di lain waktu saya bisa menuliskannya. Mohon maaf jika ada salah kata. Saya menuliskan catatan ini dengan gaya berdialog namun bukan atas dasar data rekaman melainkan dari berbagai catatan. Jadi maaf jika redaksional dialog tidak tepat seratus persen.

Ucapan terima kasih:

Untuk para teman bicara, Cak dai dan Mas Ari, Keluarga Kedai Gubug, Dedi Supmerah, Ivan Adhitya Abdillah, teman-teman Macapat Cafe, teman-teman InfiniTeam Jember Bike, teman-teman Pencinta Alam Jember, Persma Jember, Jember Photography, Cak Wang, Cak Oyong, Mas Genjur Titik 0 Kilometer Jember, Mas Wahyu Kris sekeluarga, Iip wiraswasta laundry di Jember, Danang, Mbak Etty Dharmiyatie, serta untuk rekan-rekan semua yang belum saya sebutkan, sekali lagi terima kasih.
Semoga kita bisa berjumpa di acara lanjutan 3eNG: Ngobrol Ngalor Ngidul. Kami keluarga tamasya berencana menamainya tengtengcrit, tenguk-tenguk cerito-cerito. Terima kasih.

Salam saya, RZ Hakim.
RZ Hakim © 2014